jeudi 5 janvier 2017

virtual match

You come to Tinder in hope you're going to find someone - regardless what your intention is, someone to hook up with, someone to give you attention in a regularly daily basis, someone to be involved in a serious relationship with, or just simply nothing more than a fling.
At a side, dating app sounds like a solution for singles out there. Don't blame someone who install the app because we can't say that they are too socially passive to go to social events, parties, etc. Sometimes, people can be stuck in such a situation where there's nobody around their ages (and available to date), such as if you're an office worker. You work five days a week, get back home at around 5 (or even later), no involvement in social groups consisting big amount of people, and prefer spend weekends with family or closest friends. There are little chances to meet someone new.
So, you can't just hang up there and hearing the reproduction clock keeps ticking -
You just can't hang up there while deep down you crave for partner to share stories with -
You have to do something, get yourself someone new, and see how things go. And, dating app is like a turning on yellow bulb outside your brain.
A solution.
It does sound like a solution for dead-end street loneliness.

Not to mention how easy it is to create a profile and find people from different places. I found my self amazed to find out how some people with a good job, a good educational background, and a good face is single. Like, how many people in this world that have such qualities within themselves are single anyway? I don't know if they're really single or just actually bored from their current relationship. They feel like they're not even real (well, they do - it's just they have no existence in your world - well, perhaps not yet). Swap left and right for few times then you'll find one. Then it's your decision to approach them further, or just leave it there to find another matches.

I honestly admit how awkward it is to flirt with someone you barely know. Like, it's creepy - you don't even know them in real life. IRL, I found how some people could be

Coming to Tinder in hope to find someone cute to waste time with flirtatious texts - but, is that really what we need? Swapping photos left and right because you don't have someone to give you attention in daily basis when in fact, you need that. You miss having showering attentions - Friends don't count because no-they don't woo you the way those strangers might end up doing. But, is that what you want? Wooing with strangers you don't even meet in real life?

You could meet someone everyday for months and still not knowing them for 100 percent. There are still parts of them - secrets, traits, or habits - that surprise you and you need some time to deal with that. You could know someone for a long time and say things like you don't want to date them because you know how they are in person, like there are things about themselves that annoy you or do not meet your standards.
What about those strangers, then?
You'll be more surprised when you figure themselves out.
 More?
That means for strangers or acquaintances, we would still be surprised when we get closer, right? We can be friends with someone for such a long period of time and still not feeling anything special for them - just literally no sparks. It's just casual relationship between mates. But, then we bump into this one person and suddenly it feels different. It feels like 'voila' and it will be like every pessimistic perspectives about relationship and love completely disappear. You know 500 days of Summer, right? If I'm not mistaken, that's one of those movies you freaking love.
So, I guess, bumping into a random stranger on a social dating application is one of the way you meet your click? That you will just look at one picture, judging if they're cute enough for a sleepover on this Saturday, and deciding to swap them to send flirts - oh, I should've known just how lonely you are.

mardi 3 janvier 2017

sajak awal tahun

1)
Aku akan menghadiahkan puisi pada hari ulang tahunmu.
Tiap hari aku akan menulis satu baris
mengenai hal-hal apa saja
yang membuatku jatuh cinta.

2)
Kau laki-laki yang pendiam;
dalam berbicara hemat penggunaan kata,
dalam berlaku tak pernah banyak tingkah,
serta tidak banyak mengumbar cerita.
Sedari dulu aku cuma pengagum rahasia,
aku memuja dari pinggir lapangan,
aku mengenalmu sejauh punggungmu saja,
sedang kau hanya mengetahuiku sebatas nama.

3)
Bangku-bangku taman kota dan pepohonan tuanya,
alun-alun kota yang sudut-sudutnya dimiliki para remaja
Guguran ranting, pendar senja hari, dan padat seberang jalan raya
pada bersiap untuk menjadi latar cerita.
Aku berdiri di salah satu lampu taman berkepala bola,
menunggumu datang jauh-jauh dari Surabaya.

penghibur

Aku bersembunyi di balik kesibukan,
kepala menunduk dan tubuh menekuk
di bawah meja kerja
hati ku jejalkan sekenanya
di laci meja yang kututup rapat-rapat.

Aku berharap bisa bangun di pagi hari
tanpa perlu mengingat raut di wajahmu pada hari Minggu itu.
Itu adalah hari dimana sepasang orang asing menjalin keakraban
Kita menanggalkan jati diri dan meninggalkan zona-zona nyaman
Kau mencoba berlari dari masa lalu tempatmu akan selalu berada
Aku mencoba peruntungan dalam pencarian akan pasangan,
Kita -singkatnya- menjebak diri untuk bersenang-senang di masa sekarang

Aku masih berharap bisa melewati bandara Juanda
tanpa perlu ingat jaket biru tua dan sesosok lelaki muda.
Kau lebih baik tidak perlu ingat dua karcis bioskop tua
dan seorang perempuan yang menunggumu dengan segelas kopi
di tangannya.
Semoga kesibukan dan rutinitas mencuci habis ingatanmu
tentangku,
semoga tenggat waktu dan setumpuk gawai di meja menyita perhatianku
dari sesekali mengingatmu

Semua adalah ilusi -
meskipun yang terjadi hari itu bukan fantasi
Kita merindukan keakraban, tapi menolak terjebak sebuah ikatan
Kau bermain-main dengan kemungkinan,
dan aku yang memberi kesempatan.
Tapi hidup sudah berjalan seadil-adilnya -
kau dan aku sedari awal memang tak ditakdirkan,
bagi satu sama lain, kita cuma penghiburan.
Tidak lebih.

lundi 16 mai 2016

di beranda

Beranda nanti akan jadi tempat kesayanganmu,
dimana ada sepasang bangku dan sebuah meja
memunggungi jendela menghadap pot-pot tetumbuhan
dan sepohon rindang yang setua usia si anak pertama.

Rumah ini adalah museum yang kita bangun dengan sepasang janji.
Piringan perak akan jadi benda purba pada masanya
Potret-potret wajah dan perjalanan usia di selasar
Kelak bila gigi kita muai tanggal satu persatu,
dinding bercat abu muda ini yang akan bercerita
bagaimana bisa ada anak anak lahir dari rahim semesta.

Di usia paruh baya
bayi-bayi kita menjadi dewasa muda
mentas dari bak-bak mandi yang kita belikan pakai upah kerja.
Kau tak perlu lagi cemas anak-anakmu meminjam koleksi mainanmu
tanpa sepengetahuanmu,
tapi diam-diam aku akan rindu menjadi pendongeng
yang mengantar mereka tidur dengan kecup di kening dan pipi.

Beranda ini tak akan riuh oleh derap kaki mereka
atau suara dari perbincangan lintas generasi.
Sebagai gantinya,
kau memutar piringan perak dan dengan sumbang bersuara,
berlomba mengingat lirik berikutnya.
Aku akan membacakan sajak yang kubuat semasa muda
selagi jatuh cinta.








Sabtu ibu kota

Kedai kopi yang tidak terlalu ramai di hari Sabtu-nya ibu kota.
Lima hari sebelumnya kita habiskan untuk kepenatan dan kertas-kertas.
Sore ini kita sudah berjanji akan menebus belasan cangkir kopi dalam seminggu
yang kita teguk dalam ketergesaan, kesempitan waktu yang tersisa, atau dalam kantuk dan kelesuan.

Jam-jam dengan jarumnya yang berputar cepat.
kau menantangku berlomba memunguti satu dua tiga waktu luang selama lima hari ini
dan meletakannya dalam sebotol selai kaca.
Aku menumpahkan jam-jam luang yang bersusah payah kita kumpulkan ke atas meja.

Ada anak kecil dalam diriku yang merajuk padamu
Bermanja, ia berkata "aku ingin mencuri malam hari bersamamu."

Dahimu mengernyit, alismu berkerut
Mau kau cari kemana si malam?
Haruskah kita culik dia supaya larut melambat?
Tapi, pa memangnya yang akan kita curi?
Selain hati masih yang sama-sama sembunyi.

Tidak ada potret diri berdua,
sebab telepon genggam telah kita gadaikan
untuk membeli beberapa jam pertemuan.

Di bawah lampu berpenerangan secukupnya
yang terangnya tidak benderang
namun tidak pula remang-remang,
Kita akan bercerita mengenai kesedihan;
kehampaan dewasa muda dan keinginan-keinginan yang tidak dapat dimiliki.
Sedang kesibukan adalah menu harian memuakkan
yang tidak kau atau aku pesan dalam perjumpaan malam ini.
Kita akan mabuk oleh percakapan-percakapan,
mulai dari tontonan waktu senggang sampai bakal jadi apa negara jika kita nanti empat puluh-an.
Tapi aku janji pulang nanti jalanmu tidak akan sempoyongan
dan besok pagi kau tidak akan menderita menahankan pening di kepala.
Mungkin kau hanya akan jatuh cinta,
dan aku mulai berbunga merangkai prosa.

mardi 3 mai 2016

asumsi ayahmu

Pahit kopi hitam di ujung lidah menjauhkanmu dari kantuk
secangkir yang kamu minum sedikit demi sedikit

Sekiranya pukul enam tadi pagi, ibu yang menyeduh
sambil ia sendiri menahan kantuknya
pada pukul tiga tadi ia bangun
ruku dan sujud beruntutan
masih disambung dengan doa-doa yang ia aminkan

ayah mengucap selamat pagi pada dunianya
dengan mengakrabi surat kabar,
dengan membacakan kabar-kabar dari belahan dunia
belahan negara
belahan pulau
belahan kota lain
pada dirinya.
pagi ini mata berlensanya mencuri satu dua lirik padamu
tadi malam ia agak-agak curiga,
ia menerka perilakumu yang berbeda
sudah satu, dua -tidak!- seminggu ini ia mendapati kamu, anak laki-laki satu-satunya
tersenyum pada layar telepon.
Tadi malam ia berasumsi kau sedang jatuh cinta

Yang kau tidak tahu
ayahmu membisiki ibu selepas kau masuk kamarmu
ia ingin tahu gadis itu.
cantikkah? anak gadis siapakah?
ibu dengan segala kelapangan dadanya,
mengimbangi buncah keingintahuan di mata ayah,
"Kelak kau akan bertemu dia,
gadis yang menjatuhcintakan anak laki-lakimu."

kucari kamu

Semalaman kucari kamu di kota malam hari,
Di kedai kopi yang buka hingga larut
Di bawah lampu-lampu alun-alun kota yang temaram,
atau di bangku-bangku memanjangnya yang lengang dan muak dengan rayuan.
Ku amati satu persatu kendaraan di antara lalu lalang,
Siapa tahu kau tengah berkendara menerabas angin.
Kemudian kucari kamu ke taman
di antara pepohonan tua yang seram
mungkin kamu tengah berbaring di antara rerumput hijaunya,
mungkin juga kamu yang suntuk ingin main sepeda
sepulangnya bekerja tak peduli seletih apa.
Tapi kamu tak ada,
di delapan penjuru kota ini kamu tak ada,
padahal aku berkeliling selama delapan jam tak berhenti
dengan meminjam waktu terjaga dari jatah dua puluh empat jam.
Namun justru ku temukan kamu
dalam bisik ibuku di telingaku saat aku di ambang tidur,
“ia merindukanmu,
Ia merindukanmu,"
katanya.