Pada suatu senja berhujan, bangkitlah pujangga-pujangga dalam diri tiap-tiap manusia. Dari sana, lahirlah untaian bait-bait sendu yang menuturkan satu perkara yang agaknya pun sama yaitu, cinta.
Dan aku diam selagi mengamati langit yang terlalu kelabu meski hujan telah mereda. Aku tidak berharap dapat melihat pelangi mengintip di balik lekuk-lekuk gendut awan kelabu. Yang kulihat hanyalah burung yang tak kuketahui namanya terbang dengan gelisah antara antena-antena yang tegak menjulur dari rumah ke rumah. Tapi, sesungguhnya aku berpikir, bagaimana bisa suasana sekelabu ini mendatangkan rindu? Bahkan, jika rindu itu telah dibiarkan terpendam begitu dalam. Meski begitu, rindu itu seyogyanya tak pernah benar-benar dilupakan. Hanya waktu yang dapat menggerus sosok rindu sampai seutuhnya lenyap.
Juga, alangkah manisnya apabila dalam suatu senja berhujan ketika rindu menyergapmu dalam ketidaksiapanmu menghadapinya, kamu mendapatkan satu kesempatan untuk memulai suatu percakapan lisan dengan satu sosok manusia yang kau rindukan. Barangkali hanya sesederhana menanyakan kabar, basa basi yang paling basi, karena rata-rata orang bukankah memang selalu berkata mereka baik-baik saja walau dalam keadaan tidak baik? Tetapi, dalam perihal mengucapkan basa-basi, kurasa sebagian besar orang tak pernah menyelipkan sebaris kalimat "Dan aku harap kamu baik-baik saja" pada percakapan semacam itu padahal sesungguhnya bukankah memang itu yang mereka harapkan? Menyampaikan perasaan dalam tutur kata lisan memang tidak semudah kau merangkai kata pada layar benda yang berdering nyaring.
Dan, manis, jika dalam percakapan itu, salah seorangnya bertanya, "sedang apa kau disana?" dan akan menjadi lebih manis lagi jika keduanya memang sedang saling terpikirkan satu sama lain dalam senja berhujan seperti itu. Seolah hujan menjadi penyambung lidah atas rindu-rindu yang terlalu malu untuk diutarakan. Seolah hujan membangkitkan keberanian mereka untuk memulai suatu percakapan yang memuaskan rindu.
Tapi, apa kau mau tahu bagian termanis dari percakapan dalam senja berhujan?
Itu adalah saat ketika keduanya menghangatkan satu sama lain dengan tutur kata masing-masing dalam hujan yang menghembus angin dingin karena jarak memustahilkan pertemuan.
Tidakkah itu hal yang manis?
Berbagi rindu kala hujan sedang turun dengan seseorang di ujung sana.
vendredi 20 décembre 2013
mercredi 11 décembre 2013
barisan pencakar langit
aku akan melangkah dalam bayang-bayang pencakar langit, takut untuk bertemu matahari. aku akan menenggelamkan kesedihan dalam keramaian, juga takut untuk menghadapinya dalam sunyi. aku akan menggambar garis yang membentuk atap-atap pencakar langit, terus sampai menuju antah berantah dimana kau berada. tapi, aku tidak akan tahu kenapa aku melakukan itu.
apa yang kau lakukan disana?
mungkin berdiam atau tengah girang atas kemenangan tim sepakbola favoritmu atau larut dalam samudra rutinitas yang pasang surut.
kadangkala mungkin aku akan bertanya tentangmu pada bulan yang menggelayut ditemani selir-selirnya, para bintang genit yang berkelip manja.
kadangkala aku akan meminta semesta membahasakan rindu padamu.
kadang aku akan menuturkan doa untuk memberimu peluk hangat jika kau menggigil disana.
kadang aku akan meminta Tuhan menyampaikan salamku padamu. Karena Tuhan adalah ujung teratas dari segitiga ini sementara aku dan kamu pada sudut-sudut lain dan garis yang menghubungkanku padamu adalah jarak beratus kilometer.
lalu, suatu saat, aku akan bertanya padamu di bawah bayang pencakar langit, "gadis mana yang rela menunggumu selama sembilan bulan?"
samedi 30 novembre 2013
pada suatu hari bernama entah
Pada suatu hari bernama entah, kita akan lupa apa itu jatuh cinta.
Kau akan lupa namaku dan gaung namamu pun lenyap dari semesta pikiranku.
Kau dan aku, akan saling meniadakan. Berpura-pura tidak tahu karena kepura-puraan suatu hari akan menjadi ketidaktahuan yang sebenarnya.
Mungkin karena detik-detikmu adalah candu yang kau rasakan untuk satu yang lain, atau karena doa-doaku telah merengkuh tubuh lain.
Lalu, waktu akan mengantar kita pada suatu hari yang jauh, asing, dan benderang.
Jika pada hari itu kita berdiri pada satu garis lalu bertatapan, yang akan kita dapatkan adalah embrio-embrio rasa dalam berbagai ingatan terputar kembali pada mataku dan matamu.
Kau akan lupa namaku dan gaung namamu pun lenyap dari semesta pikiranku.
Kau dan aku, akan saling meniadakan. Berpura-pura tidak tahu karena kepura-puraan suatu hari akan menjadi ketidaktahuan yang sebenarnya.
Mungkin karena detik-detikmu adalah candu yang kau rasakan untuk satu yang lain, atau karena doa-doaku telah merengkuh tubuh lain.
Lalu, waktu akan mengantar kita pada suatu hari yang jauh, asing, dan benderang.
Jika pada hari itu kita berdiri pada satu garis lalu bertatapan, yang akan kita dapatkan adalah embrio-embrio rasa dalam berbagai ingatan terputar kembali pada mataku dan matamu.
lundi 4 novembre 2013
Tujuh Telepon
Mungkin aku adalah langit yang selalu jatuh cinta pada pagi atau kamu adalah kelabu langit yang samar, tak terjemahkan oleh indra pembacaku.
.
Samar kudengar benda hitam persegi dalam genggamanku berdering akibat pikiranku tajam menancap pada pengamatanku. Lalu, kemudian aku terkejut dalam beberapa detik yang ingin selalu ku ingat ketika mendapati sebaris nama muncul lengkap dengan tanda hijau yang serasa memukul-mukul layar.
Dan udara terlalu panas untuk sebuah mimpi.
Sehingga aku menerima telepon itu dengan kesegeraan yang berdebar.
"Halo, ada apa?" sapaku perlahan.
Beberapa detik yang sunyi sementara aku menunggu suaramu menyambutku dari seberang. Entah kabar apa yang kau bawa untukku.
"Halo, ini siapa?"
Lucu. Bukankah kamu yang meneleponku? Kenapa kamu yang bertanya siapa aku?
Tidak. Bukan itu. Aku terkesima pada suara di telepon itu. Tidak seperti suaramu yang selama ini mampir dalam telingaku dan menggema dalam celah-celah kepalaku. Jadi, begini ya suaramu di telepon, pikirku.
"Ini aku. Siapa lagi?" jawabku, tak habis pikir bagaimana kau bisa bertanya seperti itu.
"Kamu dimana?"
Aku ada pada udara yang kau hirup dan ada pada ruang-ruang kekinianmu. Tidak bisakah kau melihatku dalam ingatanmu tentang hari-hari yang melelahkan?
Tapi, kejutku meluap saat kudengar suaramu dari seberang menuturkan hal buruk yang baru saja kau lalui sehingga kau terlambat hari ini.
"Biar aku aja yang kesana. Kamu dimana?
Biar aku yang mencarimu hari ini karena aku tahu aku tidak selalu akan seperti ini, mencari dan menemukanmu. Aku yakin kaulah yang akan menemukanku nanti, substansi dari dimensi putih abu yang duduk manis dalam sudut otakmu.
Dan dimulailah perjuanganku menemukanmu di antara ramainya pasar.
Mataku sibuk mengindra keberadaanmu disana dan disini.
"Aku yang pake baju biru," katamu.
Kau adalah biru, warna yang akan selalu ku cari.
Aku adalah biru, warna yang melekat menghangatkan tubuhmu.
Aku berjalan tergesa, tidak ingin membuatmu menunggu, tidak pula peduli pada beberapa pasang mata mengarah padaku. Tapi, apakah kerumunan ini peduli pada gadis yang diam-diam jatuh cinta pada seseorang yang tersesat di antara mereka?
Atau, apakah aku harus mengingat pasar yang gaduh ini sebagai salah satu tempat yang mengingatkanku padamu?
Sesosok lelaki dalam jaket biru dan baju kelabu, kelabu sepertiku, sedang berdiri dengan cemas menatap teleponnya. Benda putih persegi.
Dan, panggilanku dalam setengah teriakan mengakhiri penantianmu dan pencarianku. Pada direksi ini, detik ini, dan dalam tatapan yang saling menemukan.
Tapi, pada detik itu juga, aku bertanya pada Tuhan.
"Kenapa pada hari ini kau buat aku yang mencari dan menemukannya, Tuhan? Apakah akan ada suatu hari yang dia bahkan tidak tahu dan aku pun tidak untuk aku dan dia?"
.
Samar kudengar benda hitam persegi dalam genggamanku berdering akibat pikiranku tajam menancap pada pengamatanku. Lalu, kemudian aku terkejut dalam beberapa detik yang ingin selalu ku ingat ketika mendapati sebaris nama muncul lengkap dengan tanda hijau yang serasa memukul-mukul layar.
Dan udara terlalu panas untuk sebuah mimpi.
Sehingga aku menerima telepon itu dengan kesegeraan yang berdebar.
"Halo, ada apa?" sapaku perlahan.
Beberapa detik yang sunyi sementara aku menunggu suaramu menyambutku dari seberang. Entah kabar apa yang kau bawa untukku.
"Halo, ini siapa?"
Lucu. Bukankah kamu yang meneleponku? Kenapa kamu yang bertanya siapa aku?
Tidak. Bukan itu. Aku terkesima pada suara di telepon itu. Tidak seperti suaramu yang selama ini mampir dalam telingaku dan menggema dalam celah-celah kepalaku. Jadi, begini ya suaramu di telepon, pikirku.
"Ini aku. Siapa lagi?" jawabku, tak habis pikir bagaimana kau bisa bertanya seperti itu.
"Kamu dimana?"
Aku ada pada udara yang kau hirup dan ada pada ruang-ruang kekinianmu. Tidak bisakah kau melihatku dalam ingatanmu tentang hari-hari yang melelahkan?
Tapi, kejutku meluap saat kudengar suaramu dari seberang menuturkan hal buruk yang baru saja kau lalui sehingga kau terlambat hari ini.
"Biar aku aja yang kesana. Kamu dimana?
Biar aku yang mencarimu hari ini karena aku tahu aku tidak selalu akan seperti ini, mencari dan menemukanmu. Aku yakin kaulah yang akan menemukanku nanti, substansi dari dimensi putih abu yang duduk manis dalam sudut otakmu.
Dan dimulailah perjuanganku menemukanmu di antara ramainya pasar.
Mataku sibuk mengindra keberadaanmu disana dan disini.
"Aku yang pake baju biru," katamu.
Kau adalah biru, warna yang akan selalu ku cari.
Aku adalah biru, warna yang melekat menghangatkan tubuhmu.
Aku berjalan tergesa, tidak ingin membuatmu menunggu, tidak pula peduli pada beberapa pasang mata mengarah padaku. Tapi, apakah kerumunan ini peduli pada gadis yang diam-diam jatuh cinta pada seseorang yang tersesat di antara mereka?
Atau, apakah aku harus mengingat pasar yang gaduh ini sebagai salah satu tempat yang mengingatkanku padamu?
Sesosok lelaki dalam jaket biru dan baju kelabu, kelabu sepertiku, sedang berdiri dengan cemas menatap teleponnya. Benda putih persegi.
Dan, panggilanku dalam setengah teriakan mengakhiri penantianmu dan pencarianku. Pada direksi ini, detik ini, dan dalam tatapan yang saling menemukan.
Tapi, pada detik itu juga, aku bertanya pada Tuhan.
"Kenapa pada hari ini kau buat aku yang mencari dan menemukannya, Tuhan? Apakah akan ada suatu hari yang dia bahkan tidak tahu dan aku pun tidak untuk aku dan dia?"
...Karena aku hanya harus percaya.
monday morning's syndrome
Anyway, I was in bad mood suddenly this morning.
Funny thing is even my bad mood annoyed my self -_- You must know how bad my mood was.
Being in a bad mood on the morning is such worse! Terrible!
No one would ever want to be stuck in that kind of psychological condition. Not even the very positive person on this earth.
I got annoyed easily, sometimes. What worse when I'm in bad mood is somehow I don't know how to lift up my grumpy flat cynical lips to form something as sweet as smile.
It's like I'm invisibly forcing people to cheer me up tho' I can't help my self from it.
After several long minutes of avoiding the whole world, I put my earphones down and... try to involve my self with interactions which was happening around me.
But, come on, you ain't got something with nothing. There must be something we can take from this day.
For those who love to be alone, luckily, you're living in the world where you have to interact with people for most of your lifetime. Or, let's say it bluntly, you need people. Always. Not every seconds of your lifetime, but if you still give me questions on why we should be nice, just go through a life when no other people exists. How was it?
I know that I will always need people.
Without my closest classmates, what would I be?
From now on, I wanna be a better person.
I know that I'm selfish and spoiled at the same time, but hey, I am a positive, nice, and cheerful person, too, wasn't I?
I know that changing is hard, but what's wrong with being better?
It might not turn my self to be completely nice, to be completely like what I want people to think of me when they hear my name but, at least, a small change in me, you, or even in some people, will lead us to a better days and better outcomes.
I've heard that a small act of kindness can make someone's day.
Did I forget the happiness when I helped my friend to give her crush a box of chocolate? I still remember how happy I was when I was peeking her.
Well, okay, then from now on my goal is to be better from day to day. The change might not be so significant as I want but it's worth it.
From one little change that done each days can lead to a big good change in my self.
Moreover, I believe that everyday is a priceless gift or a chance to make ourselves better, to live our life to the fullest. We've been given such days, why don't we use it carefully then?
Funny thing is even my bad mood annoyed my self -_- You must know how bad my mood was.
Being in a bad mood on the morning is such worse! Terrible!
No one would ever want to be stuck in that kind of psychological condition. Not even the very positive person on this earth.
I got annoyed easily, sometimes. What worse when I'm in bad mood is somehow I don't know how to lift up my grumpy flat cynical lips to form something as sweet as smile.
It's like I'm invisibly forcing people to cheer me up tho' I can't help my self from it.
After several long minutes of avoiding the whole world, I put my earphones down and... try to involve my self with interactions which was happening around me.
But, come on, you ain't got something with nothing. There must be something we can take from this day.
For those who love to be alone, luckily, you're living in the world where you have to interact with people for most of your lifetime. Or, let's say it bluntly, you need people. Always. Not every seconds of your lifetime, but if you still give me questions on why we should be nice, just go through a life when no other people exists. How was it?
I know that I will always need people.
Without my closest classmates, what would I be?
From now on, I wanna be a better person.
I know that I'm selfish and spoiled at the same time, but hey, I am a positive, nice, and cheerful person, too, wasn't I?
I know that changing is hard, but what's wrong with being better?
It might not turn my self to be completely nice, to be completely like what I want people to think of me when they hear my name but, at least, a small change in me, you, or even in some people, will lead us to a better days and better outcomes.
I've heard that a small act of kindness can make someone's day.
Did I forget the happiness when I helped my friend to give her crush a box of chocolate? I still remember how happy I was when I was peeking her.
Well, okay, then from now on my goal is to be better from day to day. The change might not be so significant as I want but it's worth it.
From one little change that done each days can lead to a big good change in my self.
Moreover, I believe that everyday is a priceless gift or a chance to make ourselves better, to live our life to the fullest. We've been given such days, why don't we use it carefully then?
lundi 7 octobre 2013
Dinamika Dalam Satu Bulatan Waktu
Aku adalah jarum detik.
Kamu adalah jarum menit.
Dan cinta adalah jarum jam yang datang terlambat.
Ada satu waktu dimana aku menghimpitmu
dan kamu bergerak mengejarku yang melesat
Tapi cinta selalu datang terlambat
Dan ada juga satu masa
saat aku sudah melesat begitu jauh di antariksa waktu
tapi kau disana melenggang dalam dimensimu,
dan jam yang lambat itu tersesat jauh di belantara
kita bertiga berpencar dalam dunia masing-masing
Tapi, bukankah ada saat-saat indah yang terjadi hanya enampuluh detik
ketika aku, kamu, dan cinta yang terlambat datang
membentuk satu harmoni yang cantik dengan berdiri pada satu titik?
Karena setelah terpencar begitu jauh, melesat begitu cepat
dan merindu sampai sendu
suatu saat, detik akan menemukan menitnya
dan jam akan melengkapi harmoni waktu yang indah
Kamu adalah jarum menit.
Dan cinta adalah jarum jam yang datang terlambat.
Ada satu waktu dimana aku menghimpitmu
dan kamu bergerak mengejarku yang melesat
Tapi cinta selalu datang terlambat
Dan ada juga satu masa
saat aku sudah melesat begitu jauh di antariksa waktu
tapi kau disana melenggang dalam dimensimu,
dan jam yang lambat itu tersesat jauh di belantara
kita bertiga berpencar dalam dunia masing-masing
Tapi, bukankah ada saat-saat indah yang terjadi hanya enampuluh detik
ketika aku, kamu, dan cinta yang terlambat datang
membentuk satu harmoni yang cantik dengan berdiri pada satu titik?
Karena setelah terpencar begitu jauh, melesat begitu cepat
dan merindu sampai sendu
suatu saat, detik akan menemukan menitnya
dan jam akan melengkapi harmoni waktu yang indah
Kamu dalam aku
Kamu adalah kemarin yang tersisa pada hari ini
aku adalah hari esok yang tersembunyi di kemarin
Adalah tetes terakhir kopi dalam cangkir yang ku sesap
biar kafein menumpuk dalam darahku, menjadi bahagia dalam candu
karena tetes terakhir selalu membuatku tergoda
untuk menyesapnya lagi dan lagi
kamu adalah subuh yang biru
dingin tapi membuatku tersenyum bahagia menyambutmu
tapi, tetap saja dingin
begitu setiap hari
kamu adalah jarum menit,
aku adalah jarum detik
dan cinta adalah jarum jam yang datang terlambat
ada kala dimana kita saling menghimpit, dekat
ada kala kita didefinisikan jarak, jauh
tapi kita akan menghimpit lagi
kenapa aku adalah jarum detik?
karena rasanya cepat sekali aku merindumu, lagi
aku adalah hari esok yang tersembunyi di kemarin
Adalah tetes terakhir kopi dalam cangkir yang ku sesap
biar kafein menumpuk dalam darahku, menjadi bahagia dalam candu
karena tetes terakhir selalu membuatku tergoda
untuk menyesapnya lagi dan lagi
kamu adalah subuh yang biru
dingin tapi membuatku tersenyum bahagia menyambutmu
tapi, tetap saja dingin
begitu setiap hari
kamu adalah jarum menit,
aku adalah jarum detik
dan cinta adalah jarum jam yang datang terlambat
ada kala dimana kita saling menghimpit, dekat
ada kala kita didefinisikan jarak, jauh
tapi kita akan menghimpit lagi
kenapa aku adalah jarum detik?
karena rasanya cepat sekali aku merindumu, lagi
Inscription à :
Articles (Atom)