vendredi 15 mai 2015

berlayarlah, kapten.

Aku menemukan kita dalam dirimu, sebagaimana tanda tanya telah bertemu jawaban yang memuaskan ingin tahunya. Aku menemukan rindu, ketika percakapan kau dan aku menjadi satu bagian masa lalu. Aku menemukanmu, hanya untuk menyadari bahwa pada doaku masih ada namamu yang ku sebut setulus-tulusnya aku. Aku menemukanmu, hanya untuk menyadari bahwa kau tak lagi seruangan denganku, tak lagi melewati jalanan ini bersamaku sebab kau telah berbelok arah pada suatu persimpangan. Aku menemukanmu, hanya untuk menyadari aku terlambat memahami kepada siapa aku mencintai.

Suatu hari, aku benar-benar rindu untuk bercakap-cakap lagi denganmu melalui layar sentuhku. Aku rindu kau sentuh dengan kalimatmu, rentetan huruf yang datang darimu. Aku bahkan rindu berseteru denganmu, sebab aku suka meyakinkanmu bahwa kamu sama sekali bukan pengganggu. Aku tidak bahagia ketika tiba-tiba tak ada sebaris namamu muncul pada pukul enam pagi untuk menyelamati pagi hariku.

Suatu waktu nanti, tolong datanglah lagi. Selamati lagi pagi hariku. Sapalah lagi malam-malam hariku. Panggilah lagi namaku. Lalu, tenggelamkan aku pada banyaknya percakapan-percakapan yang akan kita miliki ke depan nanti.
Sebab aku benar-benar merindu eksistensimu dalam duniaku.

Berlayar, berlayarlah, kapten.
Sejauh apapun kau mau atau seluas apapun lautan kau seberangi. Jelajahi saja seluruh dunia sepuasmu. Aku percaya jika aku adalah rumah yang digariskan untuk kau tuju, maka seisi dunia pun akan sepakat menciptakan konspirasi untuk membawamu pulang kembali padaku. 


samedi 4 avril 2015

teman kopi

Hari-hari ini aku sungguh tidak tenang. Ada beberapa hal yang tidak mesti dipikirkan, tetapi justru menjadi beban. Pikiran-pikiran itu seperti pusaran air pada perairan, sedangkan aku penyelam amatiran yang setengah-setengah dalam berenang dan berakhir terjebak di dalam pusaran itu. Berputar-putar, tapi tidak tahu bagaimana caranya melepaskan diri. 

Bercangkir-cangkir kopi menyatu dalam nadiku, entah berapa kandungan kafein dalam darah di tubuhku. Berhari-hari sudah seperti ini. Aku tidak peduli. Sekalipun kopi justru semakin memberi nyawa pada kecemasan yang bersemayam dalam, aku tetap meneguknya sebab aku butuh teman untuk meredakan pikiran-pikiran. Tapi, seringkali caraku itu gagal. Ketika cangkir-cangkir itu mulai kehabisan isinya yang berpindah ke dalam aku, aku kesepian lagi, sebab yang ku butuhkan adalah teman sungguhan. Bukan sekadar kopi dalam gelas.


Aku ingin duduk di suatu ruang dimana ada secangkir kopi disana. Aku ingin ruang itu hampa tak ada siapapun kecuali kamu, tapi kamu pun jangan bersuara. Jangan coba sapa aku atau minta aku bercerita ada apa, sebab aku sedang gundah. Aku hanya butuh kehadiranmu di dekatku. Tidak untuk melakukan apa-apa, aku benar-benar butuh kamu di sekitaran pandang. Diam saja. Sebab hadirmu saja sudah membuatku berada dalam ketenangan yang terlalu langka pada hari-hari belakangan ini. Lalu, kamu tahu untuk apa secangkir kopi di dalam ruangan ini? Sebenarnya itu untuk kamu, supaya kamu betah berlama-lama menemaniku.

mardi 6 janvier 2015

Barisan Sajak

Pada satu malam, kau baru saja pulang kerja beberapa jam lalu dan kini tengah berlelah. Wajahmu terlihat berpenat setelah tenggelam dalam derasnya rutinitas. Kau tak banyak bicara ketika letih bermanja-manja di punggungmu, maka kubiarkan saja kau rebah.
Aku mendekat perlahan,
"Ada yang ingin kutunjukkan," ucapku.
Kau membuka mata yang tadinya memejam rapat.
"Apa?"
Ku tunjukkan padamu sajak-sajak milikku yang berbaris rapi dan sebentar saja, kau telah larut pada apa yang kau baca. Sesekali, dahimu mengernyit, seolah ada sesuatu yang ganjil. Setelah berapa waktu, kau beralih padaku dengan tatapan curiga dan bertanya kepada siapakah semua sajak-sajak itu ditujukan.
Ada hening sejenak sebelum akhirnya kukatakan,
"Bagaimana perasaanmu jika kau tahu kalau semua sajak itu sebenarnya tentangmu?"

vendredi 2 janvier 2015

Senja Berhujan

Suatu senja berhujan
ada ingatan yang dilawan oleh lupa,
dan aku yang bersembunyi di balik punggungmu
dari kehujanan.
Suatu senja berhujan,
mungkin kau pun akan ingat
pada percakapan di sepanjang perjalanan
dan di sela-sela dialog para pemeran.
Dan jaket hitam milikmu yang kau berikan
kepada seorang perempuan
sebab kau tahu ia kedinginan.
Suatu senja berhujan
dan pertanyaannya adalah siapa yang paling cepat melupakan

Seperti Awan, Ia Pergi Begitu Saja

Sebaris nama dan cerita di penghujung tahun. Di dalamnya ada hari-hari dimana harapan diberikan cuma-cuma tanpa perlu diminta. Percakapan-percakapan rahasia tentang apa saja. Karcis-karcis bioskop yang kini hanya tergeletak di atas meja. Ingatan yang berusaha dilawan oleh lupa. Juga, getar-getar rasa yang kemudian lenyap tanpa sisa. Aku bertanya, kemanakah perginya? 

Isyarat-isyarat halusnya yang sanggup berbahasa dan kode-kode Morse darinya yang membawa makna. Sepasang mata sayu dengan bulu mata lentik milik seseorang yang tidak kusangka datangnya dan tidak kusadari perginya. Seperti awan, ia pergi begitu saja dan tahu-tahu rasa miliknya itu sudah tak ada.

Barangkali karena ia dan aku begitu berbeda. Dan ia merasa perbedaannya denganku itu sedalam lagi securam jurang-jurang yang mesti ia lewati untuk menuju rumahnya. Jika ia selalu baik-baik saja dalam melewati jurang-jurang itu, kali ini ia tidak akan selamat apalagi baik-baik saja dalam usahanya melewati jurang perbedaannya denganku.

Tidak ada sebab yang membuatku paham kenapa ia pergi dengan meninggalkan harapan bersamaku. Tidak ada ucapan perpisahan atau bahkan sebuah perseteruan, sebab tiba-tiba ia pergi begitu saja. Bahkan, tidak kulihat punggungnya menjauh, sebab aku terbangun suatu pagi dan tahu-tahu ia sudah mengambil kembali hatinya yang dulu ia genggamkan padaku.


samedi 25 octobre 2014

Katakan Sesuatu, Aku Menyerah Terhadapmu

Bahkan, aku tidak ingin menyeka sebulir air yang perlahan turun selagi memeluk udara rapat di sekitarnya.
Biar saja turun.
Biar.
Biar ia mengadu pada semesta.

Tidak akan kuseka. Untuk apa?
Biar ia menjadi apapun yang akan berkabar jika ia hadir akibat seorang lelaki yang membuat pemiliknya bersedih.

Begini.

Kau itu membutuhkan dekapan, seorang perempuan yang hatinya jauh lebih murah daripada aku. Kau juga membutuhkan kelembutan, sedang aku adalah perempuan yang tadinya membutuhkan pahlawan tapi kini malah aku yang menjadi pahlawan untuk diriku sendiri. Kau butuh perempuan yang mudah, sedang aku mungkin tak dapat kau pahami dengan sekali pikir.

Gelenyar takut saat kau tertarik mendekat. Takut jika aku salah lagi dalam mempersilakan seseorang untuk singgah. Takut jika nantinya aku harus menangis malam-malam lagi ditemani sunyi. Takut jika nantinya aku sendiri harus memberi dekapan pada hatiku yang sendu, sendu sekali.
Sedihnya, takutku datang sambil menggandeng jemari harapan. Kupikir, mungkin saja aku bisa mempercayakan perasaan pada genggamanmu atau mungkin saja kau akan menjadi seseorang yang singgah tak hanya sejenak.

Selama ini, aku hanya duduk sambil mengamatimu, sebab aku ingin tahu apakah kau memang bersungguh-sungguh mengajakku tinggal di hatimu. Aku memperhatikanmu - dan kau tak tahu hal itu. Dan, kau telah menyerah padahal aku sudah hampir membukakan pintu.

Sekarang, katakan sesuatu.
Apa nama rasa itu yang kau punya dan kini telah tiada?
Tapi, terimakasih untuk pernah datang.




samedi 27 septembre 2014

Ingatkah Kau?

Ingatkah kau, waktu itu kita duduk berdua
dan malam telah mencapai larutnya.
Ia merengut kenapa kita masih bercanda
dan betah lama lama bersama.

Ingatkah kau, waktu itu kau mengantarku
sampai ke depan pintu rumahku.
Kini hanya namamu yang sampai padaku
dengan diantar angin yang mengacak rambutmu

Ingatkah kau, bagaimana hujan memerangkap kita berdua
sebab ia pun ingin berjumpa dengan bumi kekasihnya
sebagaimana dua manusia di bawahnya.
Dan kita hanya duduk bersama,
hanya duduk tanpa bicara apa-apa,
sebab kata dapat merusak suasana.

Ingatkah kau, ketika kita beradu lari
supaya kau bisa mengejarku.
Dan kini dengan tersingkapnya tabir
Aku ingin berlari, terus berlari
entah untuk mendekatimu
atau menjauhimu