Aku ingin kita terperangkap dalam waktu
di suatu senja yang menjingga di suatu tanah rantau,
atau di malam menjelang larutnya
dimana kita sendiri dengan diri-diri kita
dan tak ada yang lihat atau peduli
Aku ingin terperangkap dalam waktu denganmu,
duduk bersama saja sambil bercanda
atau, aku yang hanyut pada senja yang tenggelam di matamu
dan kau yang menautkan jari kelingkingmu padaku
Kau bilang, "Aku ingin kita saling berjanji."
tetapi aku berkata, "Kita tak butuh janji untuk bersama."
Lalu kau diam dan tampak tak setuju sebelum aku membuatmu mendengar,
"Bukankah sama saja? Bahkan sekarang pun kita sudah bersama."
Kau diam.
"Dan aku pun takut. Jagalah dirimu. Jagalah diriku."
Sebab aku telah setuju menjadi perempuan yang menaruh hatinya padamu,
dan kau telah melangkahkan kakimu lebih dahulu
Bila bahkan daun yang gugur di atas kepalamu tahu,
maka seisi alam pun telah tahu dalam isyarat-isyaratnya.
Sepasang makhluk baru saja jatuh cinta.
Dan Tuhan menggariskan cara lucu untuk kita bertemu,
sebab, bila itu cara yang diinginkan Tuhan supaya aku mengenalmu,
supaya aku bisa menertawakan kehidupan,
dan supaya menjadi sedemikian bahagia.
maka Tuhan telah menemukan cara yang tepat.
vendredi 26 septembre 2014
Demi Seseorang Dengan Senyum Di Wajahnya
Barangkali aku ingin jadi daun yang gugur di kepalamu,
supaya aku tahu bagaimana rasanya berada disana.
Atau, menjadi angin yang mendesau pelan,
seiring langkah-langkahmu di suatu siang,
demi menawar terik matahari yang menyengat kulitmu.
Atau, jadi pemanis dalam mimpi malam harimu,
supaya dalam malam-malam yang dingin kau tak sendiri.
Atau, jadi sehelai sajadah tempatmu bersujud,
yang mendengar untai doa-doa dari bibirmu,
supaya aku bisa ikut mengamininya untukmu.
Apapun akan ku jelma,
tetapi, satu yang ingin ku pastikan padamu,
aku ingin jadi alasan mengapa kau jatuh cinta.
supaya aku tahu bagaimana rasanya berada disana.
Atau, menjadi angin yang mendesau pelan,
seiring langkah-langkahmu di suatu siang,
demi menawar terik matahari yang menyengat kulitmu.
Atau, jadi pemanis dalam mimpi malam harimu,
supaya dalam malam-malam yang dingin kau tak sendiri.
Atau, jadi sehelai sajadah tempatmu bersujud,
yang mendengar untai doa-doa dari bibirmu,
supaya aku bisa ikut mengamininya untukmu.
Apapun akan ku jelma,
tetapi, satu yang ingin ku pastikan padamu,
aku ingin jadi alasan mengapa kau jatuh cinta.
Pada Waktunya
Pada waktunya, aku tidak ingin kita saling berjanji
meskipun saling dicekam rindu.
Sebab, bersama adalah suatu ketidakpastian
dan perasaanmu itu bisa saja terus kau diamkan,
tanpa pernah sempat tersiratkan oleh satu dua kata.
Bersama heningnya pagi yang menimang harapan baru,
akan ada hari-hari baru.
Yang kita tahu,
hari itu sudah berlalu.
Yang kita tidak tahu,
barangkali Tuhan setuju bila kita bersatu.
Tuhan dan rencanaNya
Alhamdulillah, ada kabar gembira untuk kita semua.
Bukan, bukan soal ekstrak kulit manggis itu.
Tapi, alhamdulillah, saya sudah resmi menjadi mahasiswi STAN Spesialisasi D1 Pajak 2014 di BDK Malang.
Saya ingat siapa orang yang minta saya daftar STAN dulu, kakak saya, dan saya tau dia bangga sama adeknya yang manja ini.
Tapi, kalo boleh jujur, saya juga agak sedikit kecewa waktu saya dapat jurusan D1-nya, bukan D3-nya. Setelah ospek di BDK, saya baru tau kalo ternyata rata-rata temen cewek saya waktu tes kesehatan dan kebugaran larinya cuma dapet 3,5 putaran. Bukannya mau pamer, tapi waktu tes saya alhamdulillah dapet 4,5 putaran dan saya juga merasa tes wawancara saya cukup bagus.
Bukannya saya nggak bersyukur, saya justru bersyukur akhirnya mimpi saya terwujud untuk belajar di STAN Pajak, saya tau kok kalo ada ratusan ribu pemuda pemudi Indonesia yang pengen banget belajar di STAN apalagi prospek masa depannya sungguh amatlah cerah dan menjanjikan. Makanya, saya nggak ragu melepas status mahasiswi ITS begitu diterima di STAN meskipun saya dapet D1. Meskipun D1, saya yakin kok, haqqul yakin, kalo ini yang terbaik buat saya ke depannya dan insya Allah bakal mensejahterakan hidup saya. Ditambah lagi, orangtua saya yang amatlah sangat ridho anak bungsunya belajar di STAN. Saya tambah yakin, karena menurut prinsip hidup saya, dimana orangtua meridhoi adalah dimana tempat kita menemukan sukses. Selain itu, saya sudah buat rencana ke depannya untuk melanjutkan kuliah D3 dan S1 insya Allah. Semoga Allah meridhoi. Aamiin Ya Allah :')
Saya juga berusaha untuk enjoy di kampus baru dan menjalaninya dengan sebaik mungkin karena saya tau, kalo dijalani dengan ikhlas, saya nggak akan merasa nyesal sudah kecewa ketika saya sudah tahu apa maksud dari rencana Tuhan ini.
Tapi, kadang, ada di saat kita harus berhenti sejenak untuk memahami ketika rencana kita berbeda dengan rencana Tuhan. Tuhan tidak pernah salah dalam setiap takdir yang Dia berikan. Tuhan juga lebih tahu apa yang kita butuhkan. Rencana Tuhan jauh lebih baik dari rencana saya. Mungkin saya akan lebih punya banyak pengalaman nantinya atau mungkin juga saya akan bertemu dengan future partner disini. Kita hanya belum tahu apa alasan Tuhan.
Dan, satu-satunya cara kita untuk tahu apa maksud Tuhan adalah dengan menjalaninya.
Bukan, bukan soal ekstrak kulit manggis itu.
Tapi, alhamdulillah, saya sudah resmi menjadi mahasiswi STAN Spesialisasi D1 Pajak 2014 di BDK Malang.
Saya ingat siapa orang yang minta saya daftar STAN dulu, kakak saya, dan saya tau dia bangga sama adeknya yang manja ini.
Tapi, kalo boleh jujur, saya juga agak sedikit kecewa waktu saya dapat jurusan D1-nya, bukan D3-nya. Setelah ospek di BDK, saya baru tau kalo ternyata rata-rata temen cewek saya waktu tes kesehatan dan kebugaran larinya cuma dapet 3,5 putaran. Bukannya mau pamer, tapi waktu tes saya alhamdulillah dapet 4,5 putaran dan saya juga merasa tes wawancara saya cukup bagus.
Bukannya saya nggak bersyukur, saya justru bersyukur akhirnya mimpi saya terwujud untuk belajar di STAN Pajak, saya tau kok kalo ada ratusan ribu pemuda pemudi Indonesia yang pengen banget belajar di STAN apalagi prospek masa depannya sungguh amatlah cerah dan menjanjikan. Makanya, saya nggak ragu melepas status mahasiswi ITS begitu diterima di STAN meskipun saya dapet D1. Meskipun D1, saya yakin kok, haqqul yakin, kalo ini yang terbaik buat saya ke depannya dan insya Allah bakal mensejahterakan hidup saya. Ditambah lagi, orangtua saya yang amatlah sangat ridho anak bungsunya belajar di STAN. Saya tambah yakin, karena menurut prinsip hidup saya, dimana orangtua meridhoi adalah dimana tempat kita menemukan sukses. Selain itu, saya sudah buat rencana ke depannya untuk melanjutkan kuliah D3 dan S1 insya Allah. Semoga Allah meridhoi. Aamiin Ya Allah :')
Saya juga berusaha untuk enjoy di kampus baru dan menjalaninya dengan sebaik mungkin karena saya tau, kalo dijalani dengan ikhlas, saya nggak akan merasa nyesal sudah kecewa ketika saya sudah tahu apa maksud dari rencana Tuhan ini.
Tapi, kadang, ada di saat kita harus berhenti sejenak untuk memahami ketika rencana kita berbeda dengan rencana Tuhan. Tuhan tidak pernah salah dalam setiap takdir yang Dia berikan. Tuhan juga lebih tahu apa yang kita butuhkan. Rencana Tuhan jauh lebih baik dari rencana saya. Mungkin saya akan lebih punya banyak pengalaman nantinya atau mungkin juga saya akan bertemu dengan future partner disini. Kita hanya belum tahu apa alasan Tuhan.
Dan, satu-satunya cara kita untuk tahu apa maksud Tuhan adalah dengan menjalaninya.
lundi 31 mars 2014
Sajak Untuk Pemuda Biru
Aku terlalu malu, seperti bunga yang selalu mengamatimu dari jauh
yang kau sendiri pun ingin membelai kelopak-kelopak merah jambunya
sehingga telah aku titipkan rindu pada hujan di malam Sabtu
dengan beberapa rangkai kata kepada yang Maha Mendengar
untuk hari jadimu yang ke delapan belas,
sebagai pengganti kata ucapan atas setahun lebih tuanya kamu
Setahun adalah lama,
dan siapa juga yang pernah tahu
diam-diam telah kau lukis sebuah penantian
seperti yang juga ku lakukan
Dan hujan turun semalaman pada Sabtu-mu
seperti aku yang ingin kamu dihujani rindu dan juga ribuan semoga dariku
Semoga adalah hadiah sederhana yang paling indah,
meski diberikan kepadamu tanpa nama sang pengirim
tapi satu waktu kelak Tuhan yang akan membisikimu siapa nama itu
Sajak untuk hari jadi ke delapan belasmu, pemuda biru
Dari,
pemudi merah jambu.
yang kau sendiri pun ingin membelai kelopak-kelopak merah jambunya
sehingga telah aku titipkan rindu pada hujan di malam Sabtu
dengan beberapa rangkai kata kepada yang Maha Mendengar
untuk hari jadimu yang ke delapan belas,
sebagai pengganti kata ucapan atas setahun lebih tuanya kamu
Setahun adalah lama,
dan siapa juga yang pernah tahu
diam-diam telah kau lukis sebuah penantian
seperti yang juga ku lakukan
Dan hujan turun semalaman pada Sabtu-mu
seperti aku yang ingin kamu dihujani rindu dan juga ribuan semoga dariku
Semoga adalah hadiah sederhana yang paling indah,
meski diberikan kepadamu tanpa nama sang pengirim
tapi satu waktu kelak Tuhan yang akan membisikimu siapa nama itu
Sajak untuk hari jadi ke delapan belasmu, pemuda biru
Dari,
pemudi merah jambu.
samedi 29 mars 2014
Surat Untuk Pemuda Biru
Untukmu,
pemuda biru.
Seiring dengan ditulisnya kalimat ini, telah ku sematkan sejuta salam hangat untukmu, pemuda biru.
Siang hari pada penghujung bulan Maret ini kian hari kian benderang saja. Walau seringkali memicingkan mata didera terik, aku berharap masa depan kita akan secerah itu juga. Tanggal dua puluh sembilan ini kau akan berusia delapan belas. Dewasamu mendahului aku beberapa belas minggu. Tahun lalu, aku terlalu malu memberimu ucapan selamat padahal rasa sudah nyata-nyata ada. Tahun ini, pada malam Sabtu nanti, aku ingin memberimu doa-doa pada sepertiga malam terakhir sebab doa adalah sebaik-baik hadiah yang dapat ku berikan untukmu. Dan biar waktu yang mengamininya.
Aku sangat ingin kau tidak hanya hadir dalam samudra ingatan. Tidak hanya hadir berdampingan dengan masa lalu. Sebab bagiku kau adalah satu di antara satu miliar manusia yang tampak biasa namun meninggalkan jejak-jejak luar biasa. Dan sejak hari itu, suatu hari pada bulan Maret yang terik oleh matahari, aku mengeja kekaguman seperti mengeja namamu, membahasakan rindu dengan bait-bait sajak tentangmu, dan menggambar debar-debar bahagia dalam dada dengan senyummu. Dan, aku akan berdoa supaya Tuhan menjagamu sebagaimana denganku sebab Tuhan tahu tapi menunggu.
Kadangkala, aku ingin menjadi secangkir hangat seduhan ibumu, sebab aku ingin menghangatkan pagi-pagimu.
Kadangkala aku ingin menjadi lensa persegimu, sebab aku ingin menatap dunia denganmu.
Kadangkala aku ingin menjadi sajadahmu, sebab aku ingin bersujud bersamamu dan mengamini doamu.
Sekali lagi, selamat berulang tahun yang ke delapan belas pemuda biru. Segenap doa telah kuhadiahkan untukku dan untukmu.
Dari,
pemudi merah jambu.
pemuda biru.
Seiring dengan ditulisnya kalimat ini, telah ku sematkan sejuta salam hangat untukmu, pemuda biru.
Siang hari pada penghujung bulan Maret ini kian hari kian benderang saja. Walau seringkali memicingkan mata didera terik, aku berharap masa depan kita akan secerah itu juga. Tanggal dua puluh sembilan ini kau akan berusia delapan belas. Dewasamu mendahului aku beberapa belas minggu. Tahun lalu, aku terlalu malu memberimu ucapan selamat padahal rasa sudah nyata-nyata ada. Tahun ini, pada malam Sabtu nanti, aku ingin memberimu doa-doa pada sepertiga malam terakhir sebab doa adalah sebaik-baik hadiah yang dapat ku berikan untukmu. Dan biar waktu yang mengamininya.
Aku sangat ingin kau tidak hanya hadir dalam samudra ingatan. Tidak hanya hadir berdampingan dengan masa lalu. Sebab bagiku kau adalah satu di antara satu miliar manusia yang tampak biasa namun meninggalkan jejak-jejak luar biasa. Dan sejak hari itu, suatu hari pada bulan Maret yang terik oleh matahari, aku mengeja kekaguman seperti mengeja namamu, membahasakan rindu dengan bait-bait sajak tentangmu, dan menggambar debar-debar bahagia dalam dada dengan senyummu. Dan, aku akan berdoa supaya Tuhan menjagamu sebagaimana denganku sebab Tuhan tahu tapi menunggu.
Kadangkala, aku ingin menjadi secangkir hangat seduhan ibumu, sebab aku ingin menghangatkan pagi-pagimu.
Kadangkala aku ingin menjadi lensa persegimu, sebab aku ingin menatap dunia denganmu.
Kadangkala aku ingin menjadi sajadahmu, sebab aku ingin bersujud bersamamu dan mengamini doamu.
Sekali lagi, selamat berulang tahun yang ke delapan belas pemuda biru. Segenap doa telah kuhadiahkan untukku dan untukmu.
Dari,
pemudi merah jambu.
vendredi 7 mars 2014
mereka yang bermimpi
Saat ini, kita mungkin seperti dua anak angin yang berkejaran. Hendak membelah gunung, demikian mimpinya.
Atau mungkin seperti dua gemintang remaja yang saling berayun di angkasa. Hendak menerangi tata surya, demikian angannya.
Atau kita adalah kita. Dua anak manusia yang sama-sama tengah terpukau oleh gemerlap angkasa malam hari.
Mari kita menggantungkan mimpi-mimpi pada bahu para bintang yang berayun berdampingan. Sesekali, kala rindu datang dengan menyerupai bayanganmu, menengadahlah pada angkasa dan lihat mimpiku disana.
Biar para bintang itu mengingatkan perjalanan kita mendaki angkasa,
dan biar pula doa membentuk gunungan di sudut kamar berselimutkan rindu,
sebab Tuhan tengah menjagamu sebagaimana aku,
dan kita harus percaya pada rotasi waktu.
Pada malam-malam kala punggung digelayuti lelah dan pada siang-siang yang penat lagi berpeluh, ingatlah selalu satu hal ini.
"Ikhtiar dulu," demikian ucapmu padaku.
Atau mungkin seperti dua gemintang remaja yang saling berayun di angkasa. Hendak menerangi tata surya, demikian angannya.
Atau kita adalah kita. Dua anak manusia yang sama-sama tengah terpukau oleh gemerlap angkasa malam hari.
Mari kita menggantungkan mimpi-mimpi pada bahu para bintang yang berayun berdampingan. Sesekali, kala rindu datang dengan menyerupai bayanganmu, menengadahlah pada angkasa dan lihat mimpiku disana.
Biar para bintang itu mengingatkan perjalanan kita mendaki angkasa,
dan biar pula doa membentuk gunungan di sudut kamar berselimutkan rindu,
sebab Tuhan tengah menjagamu sebagaimana aku,
dan kita harus percaya pada rotasi waktu.
Pada malam-malam kala punggung digelayuti lelah dan pada siang-siang yang penat lagi berpeluh, ingatlah selalu satu hal ini.
"Ikhtiar dulu," demikian ucapmu padaku.
Inscription à :
Articles (Atom)