Untukmu,
pemuda biru.
Seiring dengan ditulisnya kalimat ini, telah ku sematkan sejuta salam hangat untukmu, pemuda biru.
Siang hari pada penghujung bulan Maret ini kian hari kian benderang saja. Walau seringkali memicingkan mata didera terik, aku berharap masa depan kita akan secerah itu juga. Tanggal dua puluh sembilan ini kau akan berusia delapan belas. Dewasamu mendahului aku beberapa belas minggu. Tahun lalu, aku terlalu malu memberimu ucapan selamat padahal rasa sudah nyata-nyata ada. Tahun ini, pada malam Sabtu nanti, aku ingin memberimu doa-doa pada sepertiga malam terakhir sebab doa adalah sebaik-baik hadiah yang dapat ku berikan untukmu. Dan biar waktu yang mengamininya.
Aku sangat ingin kau tidak hanya hadir dalam samudra ingatan. Tidak hanya hadir berdampingan dengan masa lalu. Sebab bagiku kau adalah satu di antara satu miliar manusia yang tampak biasa namun meninggalkan jejak-jejak luar biasa. Dan sejak hari itu, suatu hari pada bulan Maret yang terik oleh matahari, aku mengeja kekaguman seperti mengeja namamu, membahasakan rindu dengan bait-bait sajak tentangmu, dan menggambar debar-debar bahagia dalam dada dengan senyummu. Dan, aku akan berdoa supaya Tuhan menjagamu sebagaimana denganku sebab Tuhan tahu tapi menunggu.
Kadangkala, aku ingin menjadi secangkir hangat seduhan ibumu, sebab aku ingin menghangatkan pagi-pagimu.
Kadangkala aku ingin menjadi lensa persegimu, sebab aku ingin menatap dunia denganmu.
Kadangkala aku ingin menjadi sajadahmu, sebab aku ingin bersujud bersamamu dan mengamini doamu.
Sekali lagi, selamat berulang tahun yang ke delapan belas pemuda biru. Segenap doa telah kuhadiahkan untukku dan untukmu.
Dari,
pemudi merah jambu.
Affichage des articles dont le libellé est cinta. Afficher tous les articles
Affichage des articles dont le libellé est cinta. Afficher tous les articles
samedi 29 mars 2014
vendredi 7 mars 2014
mereka yang bermimpi
Saat ini, kita mungkin seperti dua anak angin yang berkejaran. Hendak membelah gunung, demikian mimpinya.
Atau mungkin seperti dua gemintang remaja yang saling berayun di angkasa. Hendak menerangi tata surya, demikian angannya.
Atau kita adalah kita. Dua anak manusia yang sama-sama tengah terpukau oleh gemerlap angkasa malam hari.
Mari kita menggantungkan mimpi-mimpi pada bahu para bintang yang berayun berdampingan. Sesekali, kala rindu datang dengan menyerupai bayanganmu, menengadahlah pada angkasa dan lihat mimpiku disana.
Biar para bintang itu mengingatkan perjalanan kita mendaki angkasa,
dan biar pula doa membentuk gunungan di sudut kamar berselimutkan rindu,
sebab Tuhan tengah menjagamu sebagaimana aku,
dan kita harus percaya pada rotasi waktu.
Pada malam-malam kala punggung digelayuti lelah dan pada siang-siang yang penat lagi berpeluh, ingatlah selalu satu hal ini.
"Ikhtiar dulu," demikian ucapmu padaku.
Atau mungkin seperti dua gemintang remaja yang saling berayun di angkasa. Hendak menerangi tata surya, demikian angannya.
Atau kita adalah kita. Dua anak manusia yang sama-sama tengah terpukau oleh gemerlap angkasa malam hari.
Mari kita menggantungkan mimpi-mimpi pada bahu para bintang yang berayun berdampingan. Sesekali, kala rindu datang dengan menyerupai bayanganmu, menengadahlah pada angkasa dan lihat mimpiku disana.
Biar para bintang itu mengingatkan perjalanan kita mendaki angkasa,
dan biar pula doa membentuk gunungan di sudut kamar berselimutkan rindu,
sebab Tuhan tengah menjagamu sebagaimana aku,
dan kita harus percaya pada rotasi waktu.
Pada malam-malam kala punggung digelayuti lelah dan pada siang-siang yang penat lagi berpeluh, ingatlah selalu satu hal ini.
"Ikhtiar dulu," demikian ucapmu padaku.
lundi 2 septembre 2013
kopi malam ini
Pada kopiku malam ini, ada manis dan pahit yang getir dalam satu tegukannya. Dua rasa yang menyatu dengan sempurna dan menjabarkan keseluruhan perasaan dalam satu tegukan.
Ada manis.
Seperti saat aku membaca ulang barisan kalimat yang telah dituturkan. Manis karena setelah berbulan-bulan menunggu dalam lamunan senyap, datanglah hari-hari dimana eksistensi satu sama lain terasa begitu nyata. Tidak hanya tatapan yang merasakan, tapi juga kata-kata yang diukir lidah pun turut menyapa. Manis lagi karena setelah dekat lalu jauh lalu Tuhan menarik tali temali tubuhmu dan tubuhku mendekat.
Ada pahit yang getir.
Mungkin seperti ketika aku mengindra satu kenyataan pahit yang membuatku terjaga semalam dengan secangkir kopi di tangan. Semanis perasaan sehalus angin yang menggelitik langit dan sepahit aku yang menyadari sejauh mana aku telah melangkah.
Aku berhenti pada satu titik itu dimana aku sadar bahwa apa yang ku inginkan sudah menjadi kenyataan yang kujalani. Biar Tuhan yang memutuskan apakah di bawah langit biru pada suatu hari nanti akan ada rindu yang bersambut, pertemuan yang diidamkan perasaan, ingatan yang menguap oleh terik matahari, atau perasaan-perasaan yang berusaha saling menemukan jalan menuju satu sama lain.
Tuhan akan menjawab semuanya.
Ada manis.
Seperti saat aku membaca ulang barisan kalimat yang telah dituturkan. Manis karena setelah berbulan-bulan menunggu dalam lamunan senyap, datanglah hari-hari dimana eksistensi satu sama lain terasa begitu nyata. Tidak hanya tatapan yang merasakan, tapi juga kata-kata yang diukir lidah pun turut menyapa. Manis lagi karena setelah dekat lalu jauh lalu Tuhan menarik tali temali tubuhmu dan tubuhku mendekat.
Ada pahit yang getir.
Mungkin seperti ketika aku mengindra satu kenyataan pahit yang membuatku terjaga semalam dengan secangkir kopi di tangan. Semanis perasaan sehalus angin yang menggelitik langit dan sepahit aku yang menyadari sejauh mana aku telah melangkah.
Aku berhenti pada satu titik itu dimana aku sadar bahwa apa yang ku inginkan sudah menjadi kenyataan yang kujalani. Biar Tuhan yang memutuskan apakah di bawah langit biru pada suatu hari nanti akan ada rindu yang bersambut, pertemuan yang diidamkan perasaan, ingatan yang menguap oleh terik matahari, atau perasaan-perasaan yang berusaha saling menemukan jalan menuju satu sama lain.
Tuhan akan menjawab semuanya.
samedi 27 juillet 2013
ingatan tentang hari-hari bersamanya
apakah kamu selalu mengingat hari-hari bersama seseorang?
kalau iya, pasti kamu menyimpan perasaan untuknya
karena perasaan itu mengukuhkan ingatan,
membuatnya tetap hidup dalam bayangan
saat waktu membuatnya tertinggal di belakang
kalau iya, pasti kamu menyimpan perasaan untuknya
karena perasaan itu mengukuhkan ingatan,
membuatnya tetap hidup dalam bayangan
saat waktu membuatnya tertinggal di belakang
jingga yang manis
Di sisi bumi ini, jingga yang manis muncul pada diri senja. Aku memaksa diriku keluar dari rumah. Sudah lama aku tidak keluar dan melihat jingga yang manis. Tapi, begitu aku sudah di luar, yang kulihat bukannya langit.
Karena setiap aku melihat mobil, sepeda motor, dan orang yang berlalu lalang, yang kulihat hanyalah bayang-bayang wajahmu. Aku termenung melihat setiap bayang-bayangmu yang berlalu begitu saja.
Kalau aku harus mengakui, aku tidak suka diriku yang seperti ini. Aku bahkan tidak bisa menikmati senja yang kusukai tanpa mengingatmu.
Lalu, apakah dengan bicara padamu akan membuatku tidak lagi memikirkanmu?
Karena setiap aku melihat mobil, sepeda motor, dan orang yang berlalu lalang, yang kulihat hanyalah bayang-bayang wajahmu. Aku termenung melihat setiap bayang-bayangmu yang berlalu begitu saja.
Kalau aku harus mengakui, aku tidak suka diriku yang seperti ini. Aku bahkan tidak bisa menikmati senja yang kusukai tanpa mengingatmu.
Lalu, apakah dengan bicara padamu akan membuatku tidak lagi memikirkanmu?
jeudi 11 juillet 2013
Jika kamu tidak bisa tidur
Tadi malam aku tak bisa mendatangkan kantuk untuk merasuk
Aku terus terjaga sepanjang malam yang menghembus rindu
Katakan, apakah aku terjaga di dalam mimpimu?
Bisik mereka bilang jika kala malam kamu terjaga
Sebenarnya kamu tidak ada di ranjangmu,
Sebagian dari dirimu ada dalam mimpi seseorang
Seseorang yang merindumu
Aku terus terjaga sepanjang malam yang menghembus rindu
Katakan, apakah aku terjaga di dalam mimpimu?
Bisik mereka bilang jika kala malam kamu terjaga
Sebenarnya kamu tidak ada di ranjangmu,
Sebagian dari dirimu ada dalam mimpi seseorang
Seseorang yang merindumu
mercredi 10 juillet 2013
Fatimah dan Ali
It's so romantic that not even Romeo and Juliet is comparable to them.
Their love is real and inspiring.
Because when you love someone, Allah must knows it. If he is the one that Allah gives for you, Allah will make you together with him in the rightest time.Insya Allah.
lundi 8 juillet 2013
sepahit sunyi dalam pertemuan yang manis
"Apa yang kamu inginkan?" tanyanya.
Tumben. Aku sedikit heran dia bertanya seperti itu karena dia tidak pernah sekalipun menanyakan opiniku bahkan untuk hal kecil macam pesanan seperti ini sebelumnya. Tidak pernah sama sekali. Aku merasa agak aneh karena dia biasa memesankanku pesanan yang tidak terlalu kusukai dan dia pikir aku menyukainya. Aneh ketika tiba-tiba dia menghargai eksistensiku. Ku anggap perlakuan barunya itu adalah sebagai bentuk kesopanan yang dia coba tunjukkan. Tapi, aku senang dia memperlakukanku sedikit lebih beradab dan menganggapku lebih dari sekedar latar.
"Chocolate truffle saja. Aku tidak haus," jawabku.
Dia menatapku sekilas kemudian berpaling pada pelayan yang sangat sopan dan menunggu dengan sabar di samping meja.
Setelah pelayan itu berlalu, hanya ada keheningan di meja ini. Aku sibuk menatap lalu lalang di balik jendela ini sementara dia sibuk dengan smartphone-nya. Sesekali sambil menunggu pesanan, ku lirik dirinya, jemarinya pada layar smartphone, dan raut wajahnya yang terlalu datar untuk dapat diartikan.
Diam di antara aku dan dia ini seperti mengukuhkan eksistensi jarak di antara kami. Aku tidak ingat sejak kapan kami berjarak satu sama lain. Aku juga tidak tahu seberapa jauh jarak itu membentang. Rasanya seperti ada ruang kosong di depanku. Aku ingin mengucapkan sesuatu, entah itu sekedar 'hmmm' atau keluhan atas pesanan yang tak kunjung datang untuk memecah sunyi ini. Apapun asal suaraku menggema dalam rongga di antara kedua telinganya. Aku ingin memecah sunyi dan membinasakan eksistensinya karena mungkin saja dengan hilangnya sunyi, ruang kosong itu juga akan lenyap.
Akhirnya aku berdebat dengan diriku. Aku menemukan kenyamanan dalam sunyi bersamanya lebih dari hingar bingar bersama siapapun. Tapi, aku pun iri melihat mereka yang bercakap dengan riang sementara mungkin satu-satunya komunikasi bermakna yang ku lakukan bersamanya hanya telepati. Komunikasi kami yang nyata hanya sampai sejauh mana perasaan manusia dapat mengindra perasaan manusia lain. Karena aku ingin berbicara lagi padanya entah itu topik yang menggelikan atau topik yang dalam sampai membuatnya hanyut dalam letupan-letupan opini yang membuncah. Perdebatan yang cukup sengit.
Aku mendengar helaan napasnya. Aku menoleh padanya, ternyata dia ikut menatap lalu lalang di balik jendela. Melihatnya, aku tersenyum tipis. Tidak apa, setidaknya kami memandang arah yang sama.
Lalu lalang manusia ini tidak membosankan tapi tidak juga menarik, tapi aku tahu sebenarnya pikirannya tidak kesitu. Aku tahu pasti bahwa pikirannya ada di tempat lain entah di ruang bernama apa dan ada siapa disana. Aku juga tidak bisa memastikan apakah dia sedang memaksa proyeksiku dalam otaknya untuk ikut hadir dalam ruang pikirannya saat ini. Aku tidak yakin jika dia juga berusaha menyamankan diri dalam sunyi yang sudah sedemikian nyata. Aku tidak yakin dia juga ingin membinasakan sunyi senyap ini sama sepertiku.
Sunyi ini memang demikian menyiksa. Meskipun aku tidak terlalu nyaman dengan sunyi dalam ruang kosong ini, aku heran kenapa aku masih juga tidak bisa memaksa diriku membuka sebuah suara bahkan dalam nada rendah. Aku ingin dia mengucapkan sesuatu bahkan kalimat bermakna ganda sekalipun untuk ku tangapi. Kurasa alasan diamku selama ini karena aku selalu menunggunya yang membuka suara dulu, memberiku sebuah alasan untuk berbicara padanya.
Pikiranku teralih pada chocolate truffle pesananku. Chocolate truffle yang full of chocolate. Ku bayangkan rasanya pasti sedikit pahit. Kadang, terlalu banyak coklat bisa menimbulkan rasa pahit. Bahkan, dalam kemanisan seperti itu aku masih bisa menemukan kepahitan. Aku tidak membayangkan coklat yang akan hinggap di sela-sela gigiku nanti. Yang ku bayangkan adalah ketika memakan chocolate truffle itu, aku juga sedang memakan situasi saat ini detik ini. Pahit dalam manis. Seperti sunyi dalam pertemuan antara aku dan dia.
"Kenapa pesanannya lama ya?" tanyanya yang lebih terdengar seperti keluhan.
Aku tersenyum tipis dan menyiapkan sepenggal kalimat.
Tumben. Aku sedikit heran dia bertanya seperti itu karena dia tidak pernah sekalipun menanyakan opiniku bahkan untuk hal kecil macam pesanan seperti ini sebelumnya. Tidak pernah sama sekali. Aku merasa agak aneh karena dia biasa memesankanku pesanan yang tidak terlalu kusukai dan dia pikir aku menyukainya. Aneh ketika tiba-tiba dia menghargai eksistensiku. Ku anggap perlakuan barunya itu adalah sebagai bentuk kesopanan yang dia coba tunjukkan. Tapi, aku senang dia memperlakukanku sedikit lebih beradab dan menganggapku lebih dari sekedar latar.
"Chocolate truffle saja. Aku tidak haus," jawabku.
Dia menatapku sekilas kemudian berpaling pada pelayan yang sangat sopan dan menunggu dengan sabar di samping meja.
Setelah pelayan itu berlalu, hanya ada keheningan di meja ini. Aku sibuk menatap lalu lalang di balik jendela ini sementara dia sibuk dengan smartphone-nya. Sesekali sambil menunggu pesanan, ku lirik dirinya, jemarinya pada layar smartphone, dan raut wajahnya yang terlalu datar untuk dapat diartikan.
Diam di antara aku dan dia ini seperti mengukuhkan eksistensi jarak di antara kami. Aku tidak ingat sejak kapan kami berjarak satu sama lain. Aku juga tidak tahu seberapa jauh jarak itu membentang. Rasanya seperti ada ruang kosong di depanku. Aku ingin mengucapkan sesuatu, entah itu sekedar 'hmmm' atau keluhan atas pesanan yang tak kunjung datang untuk memecah sunyi ini. Apapun asal suaraku menggema dalam rongga di antara kedua telinganya. Aku ingin memecah sunyi dan membinasakan eksistensinya karena mungkin saja dengan hilangnya sunyi, ruang kosong itu juga akan lenyap.
Akhirnya aku berdebat dengan diriku. Aku menemukan kenyamanan dalam sunyi bersamanya lebih dari hingar bingar bersama siapapun. Tapi, aku pun iri melihat mereka yang bercakap dengan riang sementara mungkin satu-satunya komunikasi bermakna yang ku lakukan bersamanya hanya telepati. Komunikasi kami yang nyata hanya sampai sejauh mana perasaan manusia dapat mengindra perasaan manusia lain. Karena aku ingin berbicara lagi padanya entah itu topik yang menggelikan atau topik yang dalam sampai membuatnya hanyut dalam letupan-letupan opini yang membuncah. Perdebatan yang cukup sengit.
Aku mendengar helaan napasnya. Aku menoleh padanya, ternyata dia ikut menatap lalu lalang di balik jendela. Melihatnya, aku tersenyum tipis. Tidak apa, setidaknya kami memandang arah yang sama.
Lalu lalang manusia ini tidak membosankan tapi tidak juga menarik, tapi aku tahu sebenarnya pikirannya tidak kesitu. Aku tahu pasti bahwa pikirannya ada di tempat lain entah di ruang bernama apa dan ada siapa disana. Aku juga tidak bisa memastikan apakah dia sedang memaksa proyeksiku dalam otaknya untuk ikut hadir dalam ruang pikirannya saat ini. Aku tidak yakin jika dia juga berusaha menyamankan diri dalam sunyi yang sudah sedemikian nyata. Aku tidak yakin dia juga ingin membinasakan sunyi senyap ini sama sepertiku.
Sunyi ini memang demikian menyiksa. Meskipun aku tidak terlalu nyaman dengan sunyi dalam ruang kosong ini, aku heran kenapa aku masih juga tidak bisa memaksa diriku membuka sebuah suara bahkan dalam nada rendah. Aku ingin dia mengucapkan sesuatu bahkan kalimat bermakna ganda sekalipun untuk ku tangapi. Kurasa alasan diamku selama ini karena aku selalu menunggunya yang membuka suara dulu, memberiku sebuah alasan untuk berbicara padanya.
Pikiranku teralih pada chocolate truffle pesananku. Chocolate truffle yang full of chocolate. Ku bayangkan rasanya pasti sedikit pahit. Kadang, terlalu banyak coklat bisa menimbulkan rasa pahit. Bahkan, dalam kemanisan seperti itu aku masih bisa menemukan kepahitan. Aku tidak membayangkan coklat yang akan hinggap di sela-sela gigiku nanti. Yang ku bayangkan adalah ketika memakan chocolate truffle itu, aku juga sedang memakan situasi saat ini detik ini. Pahit dalam manis. Seperti sunyi dalam pertemuan antara aku dan dia.
"Kenapa pesanannya lama ya?" tanyanya yang lebih terdengar seperti keluhan.
Aku tersenyum tipis dan menyiapkan sepenggal kalimat.
vendredi 5 juillet 2013
Jauh
Putarlah barang satu atau dua lagu, barangkali menjadi penyemarak rindu
Keraskan lantunannya sampai meresap dalam nadi-nadiku
Rasakan setiap kata menyuarakan rindu yang tersimpan dengan rapi
Kenapa aku tak bisa juga mengatakannya?
Atau hanya melangkah setengah langkah
Aku tidak tahan bercengkrama dengan ruang hampa
Aku tidak suka mendengar ulang percakapan lama denganmu
Aku tidak mau tahu
Kau hanya harus berada disini
di ruang hampa yang alfa oleh kehadiranmu
Kau hanya harus berada disini
Entah untuk sekedar bercakap mengisi waktu
Atau untuk diam dalam rindu yang berbicara
Keraskan lantunannya sampai meresap dalam nadi-nadiku
Rasakan setiap kata menyuarakan rindu yang tersimpan dengan rapi
Kenapa aku tak bisa juga mengatakannya?
Atau hanya melangkah setengah langkah
Aku tidak tahan bercengkrama dengan ruang hampa
Aku tidak suka mendengar ulang percakapan lama denganmu
Aku tidak mau tahu
Kau hanya harus berada disini
di ruang hampa yang alfa oleh kehadiranmu
Kau hanya harus berada disini
Entah untuk sekedar bercakap mengisi waktu
Atau untuk diam dalam rindu yang berbicara
jeudi 4 juillet 2013
Indramu
Menarilah kamu dalam zonaku
Teriaklah kamu dengan segala hal yang kamu tahu
Berlarilah kamu menujuku
Tataplah aku dengan tatapan terfokusmu
Ciumlah wangiku dalam udara di sekitarmu
Dengarlah kamu akan suaraku yang memandumu
Senyumkan bibirmu dalam tatapanmu
Menyentuhlah kamu dengan jemarimu
Sentuhkan pada bahuku
Rasakan olehmu kehadiranku
Dan ingatlah dengan kepalamu,
Ingatlah aku dan tanamkan aku jauh dalam dirimu
Teriaklah kamu dengan segala hal yang kamu tahu
Berlarilah kamu menujuku
Tataplah aku dengan tatapan terfokusmu
Ciumlah wangiku dalam udara di sekitarmu
Dengarlah kamu akan suaraku yang memandumu
Senyumkan bibirmu dalam tatapanmu
Menyentuhlah kamu dengan jemarimu
Sentuhkan pada bahuku
Rasakan olehmu kehadiranku
Dan ingatlah dengan kepalamu,
Ingatlah aku dan tanamkan aku jauh dalam dirimu
mercredi 3 juillet 2013
Dalam sunyi
Aku tidak ingin menutup mataku
Karena aku tidak ingin kehilangan sedetik pun
Aku hanya ingin terus terjaga seperti ini
Tanpa ada suara tanpa ada kata
Hanya ada sunyi, kau, dan aku
Sekali lagi, aku jatuh cinta
Dan kau menjatuhcintakanku dalam sunyi
Karena aku tidak ingin kehilangan sedetik pun
Aku hanya ingin terus terjaga seperti ini
Tanpa ada suara tanpa ada kata
Hanya ada sunyi, kau, dan aku
Sekali lagi, aku jatuh cinta
Dan kau menjatuhcintakanku dalam sunyi
Hanya mimpi
Ilusi, kata semua orang
Padahal, aku sudah memimpikanmu berhari-hari
Aku benci bangun di pagi hari dan begitu ku ingat mimpiku,
ternyata kau melakoni aksi semalam suntuk dalam tidurku
Tapi aku lebih benci lagi,
ketika mimpi itu menggelitik perutku, membuatku bahagia
dan aku tidak bisa memberitahumu
vendredi 21 juin 2013
jatuh cinta
adalah sebuah sunyi dalam gaduh yang menghentak
adalah sebuah alunan dentingan simfoni dalam ketulian
adalah abu abu dalam merah, iya, langit kelabu dalam riuh kemarau
dari sebuah sudut dari pada dimensi yang sama aku menatap
mengapa aku bisa begitu lugu
mengapa aku bisa terjebak dalam sesuatu yang absurd darimu
kau tidak seperti bulan benderang,
kau juga bukan matahari yang gulita
apalagi bintang yang berkedip genit melambai
kau tidak terdefinisikan oleh ekspektasi
kau tidak terkalahkan oleh akuisisi
aku lugu tidak tahu apa-apa
dalam bentangan lenganmu aku hanyalah kupu kupu yang terlaknat
berwarna sehitam jelaga akibat dosa dan dusta
namun jadilah aku putih jika telah tersentuh olehmu
seperti debu disapu hujan
kau mencumbu impian, kau meracuni mimpi
kau membunuh argumentasi
dari dunia putih dimensi berbeda yang absurd milikku
aku memandangmu penuh asa yang melayang syahdu
dan kau menjamahnya tanpa ampun
menelanjangiku dari dosa
menyeretku pada sebuah jalan putih yang tak berkelok
membuatku tunduk dalam kekuasaanmu yang tak terbantahkan
kau, dengan gravitasimu, menjatuhcintakanku dalam sunyi
cr: taken from my old blog, http://heythereratu.blogspot.com
adalah sebuah alunan dentingan simfoni dalam ketulian
adalah abu abu dalam merah, iya, langit kelabu dalam riuh kemarau
dari sebuah sudut dari pada dimensi yang sama aku menatap
mengapa aku bisa begitu lugu
mengapa aku bisa terjebak dalam sesuatu yang absurd darimu
kau tidak seperti bulan benderang,
kau juga bukan matahari yang gulita
apalagi bintang yang berkedip genit melambai
kau tidak terdefinisikan oleh ekspektasi
kau tidak terkalahkan oleh akuisisi
aku lugu tidak tahu apa-apa
dalam bentangan lenganmu aku hanyalah kupu kupu yang terlaknat
berwarna sehitam jelaga akibat dosa dan dusta
namun jadilah aku putih jika telah tersentuh olehmu
seperti debu disapu hujan
kau mencumbu impian, kau meracuni mimpi
kau membunuh argumentasi
dari dunia putih dimensi berbeda yang absurd milikku
aku memandangmu penuh asa yang melayang syahdu
dan kau menjamahnya tanpa ampun
menelanjangiku dari dosa
menyeretku pada sebuah jalan putih yang tak berkelok
membuatku tunduk dalam kekuasaanmu yang tak terbantahkan
kau, dengan gravitasimu, menjatuhcintakanku dalam sunyi
cr: taken from my old blog, http://heythereratu.blogspot.com
mercredi 19 juin 2013
Isyarat Tentang Rindu
Jangan pernah membenci hujan atau awan mendung atau panas terik. Sesungguhnya merekalah yang menyampaikan perasaan-perasaan tak tersampaikan itu dalam isyarat paling halus yang pernah kau ketahui.
Ketika aku berjalan pada suatu siang dimana matahari sedang terik-teriknya, pada saat itu rindu yang dirahasiakan itu menguap. Bersama angin, ia terus terbang meskipun bersimbah keringat untuk singgah pada awan yang bersedia menampungnya. Bersama awan, ia menetap di langit biru untuk menunggumu dan bayanganmu untuk sekedar mampir di bawahnya untuk berteduh dari teriknya matahari. Kemudian, kamu melihat langit dan menatap awan itu. Tetapi, kamu tidak mengerti apa yang ingin dikatakan awan kepadamu. Bukan karena kamu tidak memahami bahasa para awan yang begitu awam bagimu, tapi kamu memang tidak penasaran dengan isyarat yang disampaikan awan itu kepadamu.
Pada malam hari, ku biarkan awan itu meleburkan dirinya menjadi hujan yang turun menemanimu terlelap. Hujan yang mengukuhkan kecantikan mimpimu malam ini. Hujan yang mengantarkanku memasuki mimpimu, hanya untuk sekedar menjadi figurannya.
Bahkan, rindu tak tersampaikan itu akhirnya melebur bersama dunia, menyatu dengan alam, dan menjadi isyarat yang tidak juga bisa kau pahami.
dan dia bernyanyi dalam gelapnya malam
Malam tak melulu menyeramkan dan dingin. Malamku adalah malam cerah penuh kesenangan yang berlompat-lompat cantik di sekitarku dan mengajakku menari melepaskan kejenuhanku pada dunia. Malammu adalah saat bagimu untuk terlelap dan merajut mimpi yang indah-indah. Karena aku sudah berdoa agar kau mendapatkan mimpi yang cantik meskipun aku sendiri terjaga dan lupa caranya tidur.
Ketika kamu lelap dalam tidurmu, aku akan bernyanyi untukmu. Aku akan meminjam suara alam yang begitu rupawan, barangkali suara angin pantai yang lembut untuk menyanyikanmu lagu selamat tidur. Dan tidurlah kamu. Biar mimpi indah itu datang menemanimu dalam gelap. Aku akan terus bernyanyi untukmu sampai kamu terjaga lagi. Dan, pada saat itulah kamu menyadari bahwa aku adalah segala yang kamu rindukan.
Apa aku manusia?
Aku makhluk yang punya perasaan. Tapi, apakah aku manusia yang punya perasaan?
Aku memang makhluk yang mempunyai rasa, bisa merasakan, bahkan menyembunyikan rasa. Tapi, apakah aku dengan segala kemampuanku terhadap rasa bisa disebut sebagai manusia?
Aku tidak merasa diriku manusia. Sepertinya, raut-raut wajah mereka seolah meneriakkan kata ‘kenapa’ dengan lantang.
Mereka mendengarku bertanya, barangkali sudah jengah mendengarku terus bertanya pada udara, lalu kemudian mereka menjawabku. "Kamu itu manusia!"
Benarkah aku sudah cukup manusia sebagai manusia? Aku tidak langsung mempercayai apa kata mereka yang merasa dirinya sudah cukup manusia. Jawaban mereka tidak memuaskan nafsuku tentang pertanyaan ini. Jadi, aku bertanya pada mereka yang tidak mengaku dirinya manusia.
Tidak, tidak ada yang menjawab lagi. Tentu saja. Aku cuma mengerti bahasa para manusia. Angin, awan, pohon, bahkan ikan memiliki bahasa mereka sendiri yang begitu awam untukku. Tapi, memahami bahasa manusia masih tidak membuatku merasa diriku cukup manusiawi untuk disebut manusia. Aku diam. Aku memikirkan jawaban apa yang bisa ku berikan untuk diriku. Aku mengingat segala tingkahku dan caraku berpikir. Aku terus berpikir apa jawabannya.
Aku tidak merasa diriku manusia karena manusia selayaknya bisa mengendalikan dirinya sendiri. Manusia seharusnya bisa mengendalikan perasaannya. Tapi, aku tidak merasa diriku ini manusia karena aku tidak dapat mengendalikan perasaanku untukmu. Mungkin dengan membuat perasaan ini seolah-olah tidak pernah ada, dengan mengacuhkan perasaan, aku bisa memanusiakan diriku. Aku hanya ingin menjadi manusia.
Meskipun itu berarti mengendalikan perasaanku untukmu. Mengendalikannya untuk lenyap.
Ramalan
"Jadi, kamu percaya astrologi?"
Aku tertawa. Kedengarannya tawaku begitu sarkastis sampai menohok harga diri sang penanya. Kelihatannya ia dongkol ditertawakan begitu.
"Kamu ingin jawabanku?" aku balik bertanya, memastikan apa ia benar-benar serius dengan pertanyaannya yang lugu.
"Apa aku kelihatannya sedang bercanda?" dia balik bertanya lagi.
Dia kelihatan benar-benar kesal meskipun aku yakin dia tidak butuh jawabanku. Keingintahuannya terhadapku membuatku berbelas kasihan dan memikirkan jawaban semacam apa yang dapat memuaskan keingintahuannya yang tidak penting itu.
Hening sejenak saat aku berpikir. Dengan sabar, dia duduk sambil mengaduk-aduk tehnya perlahan, menambahkan sedikit gula, lalu mengaduknya lagi.
"Kamu pikir, kenapa manusia punya dua mata?" tanyaku, berusaha memancing keingintahuannya.
"Untuk melihat lah," dia menjawab dengan malas.
"Benar. Apakah kedua mata itu bisa melihat ke dua arah?" tanyaku lagi.
"Kalau mata kananmu di atas dan mata kirmu di bawah berarti kamu juling!" katanya mulai hilang sabar lagi.
"Tidak salah," aku tersenyum. Dia menatapku dengan malas.
Kemudian, kami berdua diam. Dia bertopang dagu sambil menyentuh gagang cangkir tehnya. Mungkin kalau sabarnya sudah benar-benar habis, cangkir itu bisa melayang padaku kemudian aku tidak usah repot-repot facial karena wajahku akan dihiasi teh hangat yang manis.
"Apa mata manusia bisa melihat ke kanan dan ke kiri?" tanyaku lagi.
"Tentu saja!" sergahnya.
"Begitulah mata manusia," kataku. "Mata manusia hanya bisa melihat ke dua arah. Setiap manusia di dunia ini seperti sedang berjalan di jalan yang selurus jalan tol. Mereka hanya bisa melihat di kilometer berapa mereka melaju saat ini dan menoleh ke belakang dan melihat kilometer berapa saja yang sudah mereka lalui."
Aku memandang hujan yang membasahi jendela kaca sementara, dia sudah terlihat antusias menunggu jawaban yang akan ku utarakan.
"... Manusia tidak bisa melihat dengan jelas kilometer di depannya. Dia tidak akan tahu ada apa dan bagaimana kilometer di depannya. Manusia hanya bisa melihat saat ini dan masa lalu. Kanan dan kirinya adalah ilusi yang seperti kabut dalam udara," aku berhenti sejenak.
"Lalu?"
"Lalu, manusia yang bodoh akan mengira-ngira seperti apa keadaan kilometer di depannya. Dia pikir disana jalannya mulus jadi dia menambah kecepatan, tidak tahunya begitu dia sampai ternyata ada kubangan air. Apa menurutmu perkiraan manusia itu benar?"
"Tidak."
"Dan begitu juga dengan ramalan," pungkasku.
"Jadi, apa kamu percaya ramalan?" dia mengulang pertanyaannya lagi.
"Kamu sudah tahu jawabannya. Aku sudah memberikannya," jawabku sambil meneguk tetes kopi hangat terakhirku.
Aku tertawa. Kedengarannya tawaku begitu sarkastis sampai menohok harga diri sang penanya. Kelihatannya ia dongkol ditertawakan begitu.
"Kamu ingin jawabanku?" aku balik bertanya, memastikan apa ia benar-benar serius dengan pertanyaannya yang lugu.
"Apa aku kelihatannya sedang bercanda?" dia balik bertanya lagi.
Dia kelihatan benar-benar kesal meskipun aku yakin dia tidak butuh jawabanku. Keingintahuannya terhadapku membuatku berbelas kasihan dan memikirkan jawaban semacam apa yang dapat memuaskan keingintahuannya yang tidak penting itu.
Hening sejenak saat aku berpikir. Dengan sabar, dia duduk sambil mengaduk-aduk tehnya perlahan, menambahkan sedikit gula, lalu mengaduknya lagi.
"Kamu pikir, kenapa manusia punya dua mata?" tanyaku, berusaha memancing keingintahuannya.
"Untuk melihat lah," dia menjawab dengan malas.
"Benar. Apakah kedua mata itu bisa melihat ke dua arah?" tanyaku lagi.
"Kalau mata kananmu di atas dan mata kirmu di bawah berarti kamu juling!" katanya mulai hilang sabar lagi.
"Tidak salah," aku tersenyum. Dia menatapku dengan malas.
Kemudian, kami berdua diam. Dia bertopang dagu sambil menyentuh gagang cangkir tehnya. Mungkin kalau sabarnya sudah benar-benar habis, cangkir itu bisa melayang padaku kemudian aku tidak usah repot-repot facial karena wajahku akan dihiasi teh hangat yang manis.
"Apa mata manusia bisa melihat ke kanan dan ke kiri?" tanyaku lagi.
"Tentu saja!" sergahnya.
"Begitulah mata manusia," kataku. "Mata manusia hanya bisa melihat ke dua arah. Setiap manusia di dunia ini seperti sedang berjalan di jalan yang selurus jalan tol. Mereka hanya bisa melihat di kilometer berapa mereka melaju saat ini dan menoleh ke belakang dan melihat kilometer berapa saja yang sudah mereka lalui."
Aku memandang hujan yang membasahi jendela kaca sementara, dia sudah terlihat antusias menunggu jawaban yang akan ku utarakan.
"... Manusia tidak bisa melihat dengan jelas kilometer di depannya. Dia tidak akan tahu ada apa dan bagaimana kilometer di depannya. Manusia hanya bisa melihat saat ini dan masa lalu. Kanan dan kirinya adalah ilusi yang seperti kabut dalam udara," aku berhenti sejenak.
"Lalu?"
"Lalu, manusia yang bodoh akan mengira-ngira seperti apa keadaan kilometer di depannya. Dia pikir disana jalannya mulus jadi dia menambah kecepatan, tidak tahunya begitu dia sampai ternyata ada kubangan air. Apa menurutmu perkiraan manusia itu benar?"
"Tidak."
"Dan begitu juga dengan ramalan," pungkasku.
"Jadi, apa kamu percaya ramalan?" dia mengulang pertanyaannya lagi.
"Kamu sudah tahu jawabannya. Aku sudah memberikannya," jawabku sambil meneguk tetes kopi hangat terakhirku.
dimanche 16 juin 2013
Cerita Ampas Kopi di Malam Hari
Cerita Ampas Kopi
Saya lagi memandangi ampas kopi di dalem mug putih bulat di samping laptop. Ampasnya bener-bener hitam sampai-sampai dasar mug saya warnanya jadi agak ternoda gara-gara ampas kopi. Tapi, ampas kopi itu wangi meskipun menodai mug putih bulatku.
Lihat-lihat ampas kopi ini, saya jadi ingat kamu. Kopi yang saya minum hari ini berlisensi dari Starbucks. Harga yang sebanding dengan rasa dan aroma. Aroma kopi ini wangi dan rumahan banget. Dan ampasnya. Meskipun sudah jadi ampas, ampasnya pun masih punya aroma yang sedap. Tercium ketika aku mendekatkan mug putih bulatku untuk kuminum isinya tapi ternyata sudah habis dan hanya ada ampas itu. Berbeda dari kopi lain, ampasnya bahkan masih menyisakan wangi yang bisa memberi kesenangan kecil.
Kamu seperti ampas kopiku malam ini. Kata temanku dan memang harus ku akui, kamu punya gen yang bagus. Sebuah gen super yang jarang ku temui dengan pongahnya mengalir dalam dirimu. Kamu tidak semenggairahkan dan semenyenangkan kopi hangatku malam ini, minimal, sebagai ampas kopi yang telah kuminum habis, kamu ampas kopi yang branded. Biar kamu tidak indah-indah betul, masih ada sesuatu yang bisa dibanggakan dalam dirimu. Brand.
Brand, sebuah titel yang bisa membuat dua hal yang sama menjadi berbeda. Dalam hal ini, kopi dan manusia.
Ketika Mereka Jatuh Cinta
Manusia memang menyebalkan. Egonya tidak pernah puas. Bahkan, kalau manusia peminum air laut, dia tidak akan puas meminum air dari semua samudra di bumi. Bosan dengan air, mungkin dia akan mencoba meminum lelehan es di kutub untuk memuaskan dahaganya.
Bukankah kita sama?
Saya si egois yang tidak mau tahu dan kamu si egois yang menjaga benar harga dirimu. Ketika mereka yang egois saling jatuh cinta, mereka enggan mendekat namun minta ampun ingin dekat. Salah satu tidak mau harga dirinya runtuh dengan pendekatan yang paling tidak romantis, yang satu tidak ingin yang lain tahu apa yang dirasakannya karena tak mau harga dirinya juga runtuh. Saling menutupi, saling menjaga jarak, padahal ingin dekat. Lalu, apa yang tercipta dari reaksi dua makhluk ego yang malu-malu itu? Hanya mencuri-curi tatapan, kemudian pura-pura acuh. Hanya berdiam, padahal ingin bicara panjang. Jadi seperti itulah mereka dan kisahnya jika salah satu tidak belajar bagaimana caranya sedikit melemahkan kebuasan ego. Dingin tapi konyol, karena ego mereka saling berikatan seperti tali, memperpanjang jarak satu sama lain.
Egoisme bukanlah sebuah hal yang luar biasa.
Setiap orang mempunyai ego. Secara alami, manusia tercipta untuk menuruti ego masing-masing tapi, hanya sebagian yang tercipta untuk mengendalikannya, dan hanya beberapa yang berhasil memenangkan pertikaian melawan ego.
Dia Tidak Bisa Tidur
Aku menggeliat di bawah selimutku yang hangat. Samar, kudengar nyanyian hujan di luar. Wangi hujan yang saling memeluk dengan udara menari di hidungku. Aku terjaga.
Sudah pagi ternyata. Tapi, langit masih gelap padahal dulu ia benderang dengan cercah-cercah matahari yang rewel tidak ingin dibangunkan sepagi ini. Rupanya, matahari benar-benar rewel tak ingin bangun sampai ia tidur lagi dan sinarnya redup pagi ini. Awan abu-abu menyelimutinya yang tidur lagi, membuat sinarnya terhalang dan mendung langit pagiku.
Aku berusaha mengingat mimpiku semalam sementara matahari tak bangun-bangun dari tidurnya. Wangi hujan berbisik dekat hidungku, mengingatkanku apa yang ada dalam mimpiku semalam. Ternyata kamu. Ada apa datang ke mimpiku semalam? Apa kamu bosan tidak bicara denganku jadi kamu memutuskan datang ke mimpiku?
Tapi, aku ragu kamu benar-benar ingin bicara denganku, sekedar membahas hujan di bulan Juni misalnya. Barangkali saja, sesuatu memaksa jiwamu datang ke mimpiku padahal ragamu terbaring di ranjangmu sendiri, tak bisa tidur. Sementara ragamu gelisah tak bisa tidur, jiwamu malah memainkan sebuah drama dalam mimpiku dan mengusik ketenangannya dengan drama malam harimu.
Mereka bilang, jika seseorang bemimpi tentang seseorang yang lain itu berarti orang lain itu sedang merindukannya. Jiwaku menertawakan kata-kata mereka. Mana mungkin? Bukannya selama ini aku yang rindu bicara panjang lebar dan mendengar suara menyebalkanmu?
Aku bergegas bangun. Drama malam harimu membuatku ingin menyapamu pagi ini.
Saya lagi memandangi ampas kopi di dalem mug putih bulat di samping laptop. Ampasnya bener-bener hitam sampai-sampai dasar mug saya warnanya jadi agak ternoda gara-gara ampas kopi. Tapi, ampas kopi itu wangi meskipun menodai mug putih bulatku.
Lihat-lihat ampas kopi ini, saya jadi ingat kamu. Kopi yang saya minum hari ini berlisensi dari Starbucks. Harga yang sebanding dengan rasa dan aroma. Aroma kopi ini wangi dan rumahan banget. Dan ampasnya. Meskipun sudah jadi ampas, ampasnya pun masih punya aroma yang sedap. Tercium ketika aku mendekatkan mug putih bulatku untuk kuminum isinya tapi ternyata sudah habis dan hanya ada ampas itu. Berbeda dari kopi lain, ampasnya bahkan masih menyisakan wangi yang bisa memberi kesenangan kecil.
Kamu seperti ampas kopiku malam ini. Kata temanku dan memang harus ku akui, kamu punya gen yang bagus. Sebuah gen super yang jarang ku temui dengan pongahnya mengalir dalam dirimu. Kamu tidak semenggairahkan dan semenyenangkan kopi hangatku malam ini, minimal, sebagai ampas kopi yang telah kuminum habis, kamu ampas kopi yang branded. Biar kamu tidak indah-indah betul, masih ada sesuatu yang bisa dibanggakan dalam dirimu. Brand.
Brand, sebuah titel yang bisa membuat dua hal yang sama menjadi berbeda. Dalam hal ini, kopi dan manusia.
Ketika Mereka Jatuh Cinta
Manusia memang menyebalkan. Egonya tidak pernah puas. Bahkan, kalau manusia peminum air laut, dia tidak akan puas meminum air dari semua samudra di bumi. Bosan dengan air, mungkin dia akan mencoba meminum lelehan es di kutub untuk memuaskan dahaganya.
Bukankah kita sama?
Saya si egois yang tidak mau tahu dan kamu si egois yang menjaga benar harga dirimu. Ketika mereka yang egois saling jatuh cinta, mereka enggan mendekat namun minta ampun ingin dekat. Salah satu tidak mau harga dirinya runtuh dengan pendekatan yang paling tidak romantis, yang satu tidak ingin yang lain tahu apa yang dirasakannya karena tak mau harga dirinya juga runtuh. Saling menutupi, saling menjaga jarak, padahal ingin dekat. Lalu, apa yang tercipta dari reaksi dua makhluk ego yang malu-malu itu? Hanya mencuri-curi tatapan, kemudian pura-pura acuh. Hanya berdiam, padahal ingin bicara panjang. Jadi seperti itulah mereka dan kisahnya jika salah satu tidak belajar bagaimana caranya sedikit melemahkan kebuasan ego. Dingin tapi konyol, karena ego mereka saling berikatan seperti tali, memperpanjang jarak satu sama lain.
Egoisme bukanlah sebuah hal yang luar biasa.
Setiap orang mempunyai ego. Secara alami, manusia tercipta untuk menuruti ego masing-masing tapi, hanya sebagian yang tercipta untuk mengendalikannya, dan hanya beberapa yang berhasil memenangkan pertikaian melawan ego.
Dia Tidak Bisa Tidur
Aku menggeliat di bawah selimutku yang hangat. Samar, kudengar nyanyian hujan di luar. Wangi hujan yang saling memeluk dengan udara menari di hidungku. Aku terjaga.
Sudah pagi ternyata. Tapi, langit masih gelap padahal dulu ia benderang dengan cercah-cercah matahari yang rewel tidak ingin dibangunkan sepagi ini. Rupanya, matahari benar-benar rewel tak ingin bangun sampai ia tidur lagi dan sinarnya redup pagi ini. Awan abu-abu menyelimutinya yang tidur lagi, membuat sinarnya terhalang dan mendung langit pagiku.
Aku berusaha mengingat mimpiku semalam sementara matahari tak bangun-bangun dari tidurnya. Wangi hujan berbisik dekat hidungku, mengingatkanku apa yang ada dalam mimpiku semalam. Ternyata kamu. Ada apa datang ke mimpiku semalam? Apa kamu bosan tidak bicara denganku jadi kamu memutuskan datang ke mimpiku?
Tapi, aku ragu kamu benar-benar ingin bicara denganku, sekedar membahas hujan di bulan Juni misalnya. Barangkali saja, sesuatu memaksa jiwamu datang ke mimpiku padahal ragamu terbaring di ranjangmu sendiri, tak bisa tidur. Sementara ragamu gelisah tak bisa tidur, jiwamu malah memainkan sebuah drama dalam mimpiku dan mengusik ketenangannya dengan drama malam harimu.
Mereka bilang, jika seseorang bemimpi tentang seseorang yang lain itu berarti orang lain itu sedang merindukannya. Jiwaku menertawakan kata-kata mereka. Mana mungkin? Bukannya selama ini aku yang rindu bicara panjang lebar dan mendengar suara menyebalkanmu?
Aku bergegas bangun. Drama malam harimu membuatku ingin menyapamu pagi ini.
Inscription à :
Articles (Atom)
