Affichage des articles dont le libellé est nyata. Afficher tous les articles
Affichage des articles dont le libellé est nyata. Afficher tous les articles

samedi 27 juillet 2013

ingatan tentang hari-hari bersamanya

apakah kamu selalu mengingat hari-hari bersama seseorang?
kalau iya, pasti kamu menyimpan perasaan untuknya
karena perasaan itu mengukuhkan ingatan,
membuatnya tetap hidup dalam bayangan
saat waktu membuatnya tertinggal di belakang



jingga yang manis

Di sisi bumi ini, jingga yang manis muncul pada diri senja. Aku memaksa diriku keluar dari rumah. Sudah lama aku tidak keluar dan melihat jingga yang manis. Tapi, begitu aku sudah di luar, yang kulihat bukannya langit.
Karena setiap aku melihat mobil, sepeda motor, dan orang yang berlalu lalang, yang kulihat hanyalah bayang-bayang wajahmu. Aku termenung melihat setiap bayang-bayangmu yang berlalu begitu saja.
Kalau aku harus mengakui, aku tidak suka diriku yang seperti ini. Aku bahkan tidak bisa menikmati senja yang kusukai tanpa mengingatmu.
Lalu, apakah dengan bicara padamu akan membuatku tidak lagi memikirkanmu?


mercredi 10 juillet 2013

Fatimah dan Ali


As a Muslim, we should have known a very romantic love tale between Fatimah and Ali. They fall in love to each other secretly but then Allah knows it and make them together :)
It's so romantic that not even Romeo and Juliet is comparable to them.

Their love is real and inspiring.
Because when you love someone, Allah must knows it. If he is the one that Allah gives for you, Allah will make you together with him in the rightest time.
Insya Allah.

lundi 8 juillet 2013

sepahit sunyi dalam pertemuan yang manis

"Apa yang kamu inginkan?" tanyanya.
Tumben. Aku sedikit heran dia bertanya seperti itu karena dia tidak pernah sekalipun menanyakan opiniku bahkan untuk hal kecil macam pesanan seperti ini sebelumnya. Tidak pernah sama sekali. Aku merasa agak aneh karena dia biasa memesankanku pesanan yang tidak terlalu kusukai dan dia pikir aku menyukainya. Aneh ketika tiba-tiba dia menghargai eksistensiku. Ku anggap perlakuan barunya itu adalah sebagai bentuk kesopanan yang dia coba tunjukkan. Tapi, aku senang dia memperlakukanku sedikit lebih beradab dan menganggapku lebih dari sekedar latar.
"Chocolate truffle saja. Aku tidak haus," jawabku.
Dia menatapku sekilas kemudian berpaling pada pelayan yang sangat sopan dan menunggu dengan sabar di samping meja.

Setelah pelayan itu berlalu, hanya ada keheningan di meja ini. Aku sibuk menatap lalu lalang di balik jendela ini sementara dia sibuk dengan smartphone-nya. Sesekali sambil menunggu pesanan, ku lirik dirinya, jemarinya pada layar smartphone, dan raut wajahnya yang terlalu datar untuk dapat diartikan.
Diam di antara aku dan dia ini seperti mengukuhkan eksistensi jarak di antara kami. Aku tidak ingat sejak kapan kami berjarak satu sama lain. Aku juga tidak tahu seberapa jauh jarak itu membentang. Rasanya seperti ada ruang kosong di depanku. Aku ingin mengucapkan sesuatu, entah itu sekedar 'hmmm' atau keluhan atas pesanan yang tak kunjung datang untuk memecah sunyi ini. Apapun asal suaraku menggema dalam rongga di antara kedua telinganya. Aku ingin memecah sunyi dan membinasakan eksistensinya karena mungkin saja dengan hilangnya sunyi, ruang kosong itu juga akan lenyap.
Akhirnya aku berdebat dengan diriku. Aku menemukan kenyamanan dalam sunyi bersamanya lebih dari hingar bingar bersama siapapun. Tapi, aku pun iri melihat mereka yang bercakap dengan riang sementara mungkin satu-satunya komunikasi bermakna yang ku lakukan bersamanya hanya telepati. Komunikasi kami yang nyata hanya sampai sejauh mana perasaan manusia dapat mengindra perasaan manusia lain. Karena aku ingin berbicara lagi padanya entah itu topik yang menggelikan atau topik yang dalam sampai membuatnya hanyut dalam letupan-letupan opini yang membuncah. Perdebatan yang cukup sengit. 

Aku mendengar helaan napasnya. Aku menoleh padanya, ternyata dia ikut menatap lalu lalang di balik jendela. Melihatnya, aku tersenyum tipis. Tidak apa, setidaknya kami memandang arah yang sama.
Lalu lalang manusia ini tidak membosankan tapi tidak juga menarik, tapi aku tahu sebenarnya pikirannya tidak kesitu. Aku tahu pasti bahwa pikirannya ada di tempat lain entah di ruang bernama apa dan ada siapa disana. Aku juga tidak bisa memastikan apakah dia sedang memaksa proyeksiku dalam otaknya untuk ikut hadir dalam ruang pikirannya saat ini. Aku tidak yakin jika dia juga berusaha menyamankan diri dalam sunyi yang sudah sedemikian nyata. Aku tidak yakin dia juga ingin membinasakan sunyi senyap ini sama sepertiku.

Sunyi ini memang demikian menyiksa. Meskipun aku tidak terlalu nyaman dengan sunyi dalam ruang kosong ini, aku heran kenapa aku masih juga tidak bisa memaksa diriku membuka sebuah suara bahkan dalam nada rendah. Aku ingin dia mengucapkan sesuatu bahkan kalimat bermakna ganda sekalipun untuk ku tangapi. Kurasa alasan diamku selama ini karena aku selalu menunggunya yang membuka suara dulu, memberiku sebuah alasan untuk berbicara padanya.

Pikiranku teralih pada chocolate truffle pesananku. Chocolate truffle yang full of chocolate. Ku bayangkan rasanya pasti sedikit pahit. Kadang, terlalu banyak coklat bisa menimbulkan rasa pahit. Bahkan, dalam kemanisan seperti itu aku masih bisa menemukan kepahitan. Aku tidak membayangkan coklat yang akan hinggap di sela-sela gigiku nanti. Yang ku bayangkan adalah ketika memakan chocolate truffle itu, aku juga sedang memakan situasi saat ini detik ini. Pahit dalam manis. Seperti sunyi dalam pertemuan antara aku dan dia.

"Kenapa pesanannya lama ya?" tanyanya yang lebih terdengar seperti keluhan.
Aku tersenyum tipis dan menyiapkan sepenggal kalimat.

lundi 24 juin 2013

Hujan itu menyenangkan, ya. Semacam mengukuhkan ingatan.
Rasanya menyenangkan mengingat pertemuan-pertemuan sederhana yang tak disengaja dalam hidup ini ketika hujan turun.

mercredi 19 juin 2013

apapun yang terjadi, jangan lari dari kenyataan

kenapa tidak?
karena kenyataan adalah satu-satunya tempat dimana kamu tinggal
dan kalau kamu lari dari kenyataan, dimana lagi kamu akan tinggal?
dan itulah alasannya kenapa mereka yang lari dari kenyataan untuk melupakan masalah malah akhirnya menemukan masalah.
sepertinya, dunia ini berbentuk lingkaran. karena jika kamu berlari dari suatu hal, kamu akan justru menemukan hal itu pada akhirnya pada suatu saat nanti. 

dimanche 16 juin 2013

Cerita Ampas Kopi di Malam Hari

Cerita Ampas Kopi

Saya lagi memandangi ampas kopi di dalem mug putih bulat di samping laptop. Ampasnya bener-bener hitam sampai-sampai dasar mug saya warnanya jadi agak ternoda gara-gara ampas kopi. Tapi, ampas kopi itu wangi meskipun menodai mug putih bulatku.

Lihat-lihat ampas kopi ini, saya jadi ingat kamu. Kopi yang saya minum hari ini berlisensi dari Starbucks. Harga yang sebanding dengan rasa dan aroma. Aroma kopi ini wangi dan rumahan banget. Dan ampasnya. Meskipun sudah jadi ampas, ampasnya pun masih punya aroma yang sedap. Tercium ketika aku mendekatkan mug putih bulatku untuk kuminum isinya tapi ternyata sudah habis dan hanya ada ampas itu. Berbeda dari kopi lain, ampasnya bahkan masih menyisakan wangi yang bisa memberi kesenangan kecil.
Kamu seperti ampas kopiku malam ini. Kata temanku dan memang harus ku akui, kamu punya gen yang bagus. Sebuah gen super yang jarang ku temui dengan pongahnya mengalir dalam dirimu. Kamu tidak semenggairahkan dan semenyenangkan kopi hangatku malam ini, minimal, sebagai ampas kopi yang telah kuminum habis, kamu ampas kopi yang branded. Biar kamu tidak indah-indah betul, masih ada sesuatu yang bisa dibanggakan dalam dirimu. Brand.

Brand, sebuah titel yang bisa membuat dua hal yang sama menjadi berbeda. Dalam hal ini, kopi dan manusia.

Ketika Mereka Jatuh Cinta

Manusia memang menyebalkan. Egonya tidak pernah puas. Bahkan, kalau manusia peminum air laut, dia tidak akan puas meminum air dari semua samudra di bumi. Bosan dengan air, mungkin dia akan mencoba meminum lelehan es di kutub untuk memuaskan dahaganya.

Bukankah kita sama?
Saya si egois yang tidak mau tahu dan kamu si egois yang menjaga benar harga dirimu. Ketika mereka yang egois saling jatuh cinta, mereka enggan mendekat namun minta ampun ingin dekat. Salah satu tidak mau harga dirinya runtuh dengan pendekatan yang paling tidak romantis, yang satu tidak ingin yang lain tahu apa yang dirasakannya karena tak mau harga dirinya juga runtuh. Saling menutupi, saling menjaga jarak, padahal ingin dekat. Lalu, apa yang tercipta dari reaksi dua makhluk ego yang malu-malu itu? Hanya mencuri-curi tatapan, kemudian pura-pura acuh. Hanya berdiam, padahal ingin bicara panjang. Jadi seperti itulah mereka dan kisahnya jika salah satu tidak belajar bagaimana caranya sedikit melemahkan kebuasan ego. Dingin tapi konyol, karena ego mereka saling berikatan seperti tali, memperpanjang jarak satu sama lain.

Egoisme bukanlah sebuah hal yang luar biasa.
Setiap orang mempunyai ego. Secara alami, manusia tercipta untuk menuruti ego masing-masing tapi, hanya sebagian yang tercipta untuk mengendalikannya, dan hanya beberapa yang berhasil memenangkan pertikaian melawan ego.

Dia Tidak Bisa Tidur

Aku menggeliat di bawah selimutku yang hangat. Samar, kudengar nyanyian hujan di luar. Wangi hujan yang saling memeluk dengan udara menari di hidungku. Aku terjaga.

Sudah pagi ternyata. Tapi, langit masih gelap padahal dulu ia benderang dengan cercah-cercah matahari yang rewel tidak ingin dibangunkan sepagi ini. Rupanya, matahari benar-benar rewel tak ingin bangun sampai ia tidur lagi dan sinarnya redup pagi ini. Awan abu-abu menyelimutinya yang tidur lagi, membuat sinarnya terhalang dan mendung langit pagiku.

Aku berusaha mengingat mimpiku semalam sementara matahari tak bangun-bangun dari tidurnya. Wangi hujan berbisik dekat hidungku, mengingatkanku apa yang ada dalam mimpiku semalam. Ternyata kamu. Ada apa datang ke mimpiku semalam? Apa kamu bosan tidak bicara denganku jadi kamu memutuskan datang ke mimpiku?
Tapi, aku ragu kamu benar-benar ingin bicara denganku, sekedar membahas hujan di bulan Juni misalnya. Barangkali saja, sesuatu memaksa jiwamu datang ke mimpiku padahal ragamu terbaring di ranjangmu sendiri, tak bisa tidur. Sementara ragamu gelisah tak bisa tidur, jiwamu malah memainkan sebuah drama dalam mimpiku dan mengusik ketenangannya dengan drama malam harimu.

Mereka bilang, jika seseorang bemimpi tentang seseorang yang lain itu berarti orang lain itu sedang merindukannya. Jiwaku menertawakan kata-kata mereka. Mana mungkin? Bukannya selama ini aku yang rindu bicara panjang lebar dan mendengar suara menyebalkanmu?

Aku bergegas bangun. Drama malam harimu membuatku ingin menyapamu pagi ini.