Tadi malam aku tak bisa mendatangkan kantuk untuk merasuk
Aku terus terjaga sepanjang malam yang menghembus rindu
Katakan, apakah aku terjaga di dalam mimpimu?
Bisik mereka bilang jika kala malam kamu terjaga
Sebenarnya kamu tidak ada di ranjangmu,
Sebagian dari dirimu ada dalam mimpi seseorang
Seseorang yang merindumu
Affichage des articles dont le libellé est separuh nyata. Afficher tous les articles
Affichage des articles dont le libellé est separuh nyata. Afficher tous les articles
jeudi 11 juillet 2013
jeudi 4 juillet 2013
Indramu
Menarilah kamu dalam zonaku
Teriaklah kamu dengan segala hal yang kamu tahu
Berlarilah kamu menujuku
Tataplah aku dengan tatapan terfokusmu
Ciumlah wangiku dalam udara di sekitarmu
Dengarlah kamu akan suaraku yang memandumu
Senyumkan bibirmu dalam tatapanmu
Menyentuhlah kamu dengan jemarimu
Sentuhkan pada bahuku
Rasakan olehmu kehadiranku
Dan ingatlah dengan kepalamu,
Ingatlah aku dan tanamkan aku jauh dalam dirimu
Teriaklah kamu dengan segala hal yang kamu tahu
Berlarilah kamu menujuku
Tataplah aku dengan tatapan terfokusmu
Ciumlah wangiku dalam udara di sekitarmu
Dengarlah kamu akan suaraku yang memandumu
Senyumkan bibirmu dalam tatapanmu
Menyentuhlah kamu dengan jemarimu
Sentuhkan pada bahuku
Rasakan olehmu kehadiranku
Dan ingatlah dengan kepalamu,
Ingatlah aku dan tanamkan aku jauh dalam dirimu
mercredi 3 juillet 2013
Dalam sunyi
Aku tidak ingin menutup mataku
Karena aku tidak ingin kehilangan sedetik pun
Aku hanya ingin terus terjaga seperti ini
Tanpa ada suara tanpa ada kata
Hanya ada sunyi, kau, dan aku
Sekali lagi, aku jatuh cinta
Dan kau menjatuhcintakanku dalam sunyi
Karena aku tidak ingin kehilangan sedetik pun
Aku hanya ingin terus terjaga seperti ini
Tanpa ada suara tanpa ada kata
Hanya ada sunyi, kau, dan aku
Sekali lagi, aku jatuh cinta
Dan kau menjatuhcintakanku dalam sunyi
Hanya mimpi
Ilusi, kata semua orang
Padahal, aku sudah memimpikanmu berhari-hari
Aku benci bangun di pagi hari dan begitu ku ingat mimpiku,
ternyata kau melakoni aksi semalam suntuk dalam tidurku
Tapi aku lebih benci lagi,
ketika mimpi itu menggelitik perutku, membuatku bahagia
dan aku tidak bisa memberitahumu
mercredi 19 juin 2013
Isyarat Tentang Rindu
Jangan pernah membenci hujan atau awan mendung atau panas terik. Sesungguhnya merekalah yang menyampaikan perasaan-perasaan tak tersampaikan itu dalam isyarat paling halus yang pernah kau ketahui.
Ketika aku berjalan pada suatu siang dimana matahari sedang terik-teriknya, pada saat itu rindu yang dirahasiakan itu menguap. Bersama angin, ia terus terbang meskipun bersimbah keringat untuk singgah pada awan yang bersedia menampungnya. Bersama awan, ia menetap di langit biru untuk menunggumu dan bayanganmu untuk sekedar mampir di bawahnya untuk berteduh dari teriknya matahari. Kemudian, kamu melihat langit dan menatap awan itu. Tetapi, kamu tidak mengerti apa yang ingin dikatakan awan kepadamu. Bukan karena kamu tidak memahami bahasa para awan yang begitu awam bagimu, tapi kamu memang tidak penasaran dengan isyarat yang disampaikan awan itu kepadamu.
Pada malam hari, ku biarkan awan itu meleburkan dirinya menjadi hujan yang turun menemanimu terlelap. Hujan yang mengukuhkan kecantikan mimpimu malam ini. Hujan yang mengantarkanku memasuki mimpimu, hanya untuk sekedar menjadi figurannya.
Bahkan, rindu tak tersampaikan itu akhirnya melebur bersama dunia, menyatu dengan alam, dan menjadi isyarat yang tidak juga bisa kau pahami.
dan dia bernyanyi dalam gelapnya malam
Malam tak melulu menyeramkan dan dingin. Malamku adalah malam cerah penuh kesenangan yang berlompat-lompat cantik di sekitarku dan mengajakku menari melepaskan kejenuhanku pada dunia. Malammu adalah saat bagimu untuk terlelap dan merajut mimpi yang indah-indah. Karena aku sudah berdoa agar kau mendapatkan mimpi yang cantik meskipun aku sendiri terjaga dan lupa caranya tidur.
Ketika kamu lelap dalam tidurmu, aku akan bernyanyi untukmu. Aku akan meminjam suara alam yang begitu rupawan, barangkali suara angin pantai yang lembut untuk menyanyikanmu lagu selamat tidur. Dan tidurlah kamu. Biar mimpi indah itu datang menemanimu dalam gelap. Aku akan terus bernyanyi untukmu sampai kamu terjaga lagi. Dan, pada saat itulah kamu menyadari bahwa aku adalah segala yang kamu rindukan.
Ramalan
"Jadi, kamu percaya astrologi?"
Aku tertawa. Kedengarannya tawaku begitu sarkastis sampai menohok harga diri sang penanya. Kelihatannya ia dongkol ditertawakan begitu.
"Kamu ingin jawabanku?" aku balik bertanya, memastikan apa ia benar-benar serius dengan pertanyaannya yang lugu.
"Apa aku kelihatannya sedang bercanda?" dia balik bertanya lagi.
Dia kelihatan benar-benar kesal meskipun aku yakin dia tidak butuh jawabanku. Keingintahuannya terhadapku membuatku berbelas kasihan dan memikirkan jawaban semacam apa yang dapat memuaskan keingintahuannya yang tidak penting itu.
Hening sejenak saat aku berpikir. Dengan sabar, dia duduk sambil mengaduk-aduk tehnya perlahan, menambahkan sedikit gula, lalu mengaduknya lagi.
"Kamu pikir, kenapa manusia punya dua mata?" tanyaku, berusaha memancing keingintahuannya.
"Untuk melihat lah," dia menjawab dengan malas.
"Benar. Apakah kedua mata itu bisa melihat ke dua arah?" tanyaku lagi.
"Kalau mata kananmu di atas dan mata kirmu di bawah berarti kamu juling!" katanya mulai hilang sabar lagi.
"Tidak salah," aku tersenyum. Dia menatapku dengan malas.
Kemudian, kami berdua diam. Dia bertopang dagu sambil menyentuh gagang cangkir tehnya. Mungkin kalau sabarnya sudah benar-benar habis, cangkir itu bisa melayang padaku kemudian aku tidak usah repot-repot facial karena wajahku akan dihiasi teh hangat yang manis.
"Apa mata manusia bisa melihat ke kanan dan ke kiri?" tanyaku lagi.
"Tentu saja!" sergahnya.
"Begitulah mata manusia," kataku. "Mata manusia hanya bisa melihat ke dua arah. Setiap manusia di dunia ini seperti sedang berjalan di jalan yang selurus jalan tol. Mereka hanya bisa melihat di kilometer berapa mereka melaju saat ini dan menoleh ke belakang dan melihat kilometer berapa saja yang sudah mereka lalui."
Aku memandang hujan yang membasahi jendela kaca sementara, dia sudah terlihat antusias menunggu jawaban yang akan ku utarakan.
"... Manusia tidak bisa melihat dengan jelas kilometer di depannya. Dia tidak akan tahu ada apa dan bagaimana kilometer di depannya. Manusia hanya bisa melihat saat ini dan masa lalu. Kanan dan kirinya adalah ilusi yang seperti kabut dalam udara," aku berhenti sejenak.
"Lalu?"
"Lalu, manusia yang bodoh akan mengira-ngira seperti apa keadaan kilometer di depannya. Dia pikir disana jalannya mulus jadi dia menambah kecepatan, tidak tahunya begitu dia sampai ternyata ada kubangan air. Apa menurutmu perkiraan manusia itu benar?"
"Tidak."
"Dan begitu juga dengan ramalan," pungkasku.
"Jadi, apa kamu percaya ramalan?" dia mengulang pertanyaannya lagi.
"Kamu sudah tahu jawabannya. Aku sudah memberikannya," jawabku sambil meneguk tetes kopi hangat terakhirku.
Aku tertawa. Kedengarannya tawaku begitu sarkastis sampai menohok harga diri sang penanya. Kelihatannya ia dongkol ditertawakan begitu.
"Kamu ingin jawabanku?" aku balik bertanya, memastikan apa ia benar-benar serius dengan pertanyaannya yang lugu.
"Apa aku kelihatannya sedang bercanda?" dia balik bertanya lagi.
Dia kelihatan benar-benar kesal meskipun aku yakin dia tidak butuh jawabanku. Keingintahuannya terhadapku membuatku berbelas kasihan dan memikirkan jawaban semacam apa yang dapat memuaskan keingintahuannya yang tidak penting itu.
Hening sejenak saat aku berpikir. Dengan sabar, dia duduk sambil mengaduk-aduk tehnya perlahan, menambahkan sedikit gula, lalu mengaduknya lagi.
"Kamu pikir, kenapa manusia punya dua mata?" tanyaku, berusaha memancing keingintahuannya.
"Untuk melihat lah," dia menjawab dengan malas.
"Benar. Apakah kedua mata itu bisa melihat ke dua arah?" tanyaku lagi.
"Kalau mata kananmu di atas dan mata kirmu di bawah berarti kamu juling!" katanya mulai hilang sabar lagi.
"Tidak salah," aku tersenyum. Dia menatapku dengan malas.
Kemudian, kami berdua diam. Dia bertopang dagu sambil menyentuh gagang cangkir tehnya. Mungkin kalau sabarnya sudah benar-benar habis, cangkir itu bisa melayang padaku kemudian aku tidak usah repot-repot facial karena wajahku akan dihiasi teh hangat yang manis.
"Apa mata manusia bisa melihat ke kanan dan ke kiri?" tanyaku lagi.
"Tentu saja!" sergahnya.
"Begitulah mata manusia," kataku. "Mata manusia hanya bisa melihat ke dua arah. Setiap manusia di dunia ini seperti sedang berjalan di jalan yang selurus jalan tol. Mereka hanya bisa melihat di kilometer berapa mereka melaju saat ini dan menoleh ke belakang dan melihat kilometer berapa saja yang sudah mereka lalui."
Aku memandang hujan yang membasahi jendela kaca sementara, dia sudah terlihat antusias menunggu jawaban yang akan ku utarakan.
"... Manusia tidak bisa melihat dengan jelas kilometer di depannya. Dia tidak akan tahu ada apa dan bagaimana kilometer di depannya. Manusia hanya bisa melihat saat ini dan masa lalu. Kanan dan kirinya adalah ilusi yang seperti kabut dalam udara," aku berhenti sejenak.
"Lalu?"
"Lalu, manusia yang bodoh akan mengira-ngira seperti apa keadaan kilometer di depannya. Dia pikir disana jalannya mulus jadi dia menambah kecepatan, tidak tahunya begitu dia sampai ternyata ada kubangan air. Apa menurutmu perkiraan manusia itu benar?"
"Tidak."
"Dan begitu juga dengan ramalan," pungkasku.
"Jadi, apa kamu percaya ramalan?" dia mengulang pertanyaannya lagi.
"Kamu sudah tahu jawabannya. Aku sudah memberikannya," jawabku sambil meneguk tetes kopi hangat terakhirku.
dimanche 16 juin 2013
Cerita Ampas Kopi di Malam Hari
Cerita Ampas Kopi
Saya lagi memandangi ampas kopi di dalem mug putih bulat di samping laptop. Ampasnya bener-bener hitam sampai-sampai dasar mug saya warnanya jadi agak ternoda gara-gara ampas kopi. Tapi, ampas kopi itu wangi meskipun menodai mug putih bulatku.
Lihat-lihat ampas kopi ini, saya jadi ingat kamu. Kopi yang saya minum hari ini berlisensi dari Starbucks. Harga yang sebanding dengan rasa dan aroma. Aroma kopi ini wangi dan rumahan banget. Dan ampasnya. Meskipun sudah jadi ampas, ampasnya pun masih punya aroma yang sedap. Tercium ketika aku mendekatkan mug putih bulatku untuk kuminum isinya tapi ternyata sudah habis dan hanya ada ampas itu. Berbeda dari kopi lain, ampasnya bahkan masih menyisakan wangi yang bisa memberi kesenangan kecil.
Kamu seperti ampas kopiku malam ini. Kata temanku dan memang harus ku akui, kamu punya gen yang bagus. Sebuah gen super yang jarang ku temui dengan pongahnya mengalir dalam dirimu. Kamu tidak semenggairahkan dan semenyenangkan kopi hangatku malam ini, minimal, sebagai ampas kopi yang telah kuminum habis, kamu ampas kopi yang branded. Biar kamu tidak indah-indah betul, masih ada sesuatu yang bisa dibanggakan dalam dirimu. Brand.
Brand, sebuah titel yang bisa membuat dua hal yang sama menjadi berbeda. Dalam hal ini, kopi dan manusia.
Ketika Mereka Jatuh Cinta
Manusia memang menyebalkan. Egonya tidak pernah puas. Bahkan, kalau manusia peminum air laut, dia tidak akan puas meminum air dari semua samudra di bumi. Bosan dengan air, mungkin dia akan mencoba meminum lelehan es di kutub untuk memuaskan dahaganya.
Bukankah kita sama?
Saya si egois yang tidak mau tahu dan kamu si egois yang menjaga benar harga dirimu. Ketika mereka yang egois saling jatuh cinta, mereka enggan mendekat namun minta ampun ingin dekat. Salah satu tidak mau harga dirinya runtuh dengan pendekatan yang paling tidak romantis, yang satu tidak ingin yang lain tahu apa yang dirasakannya karena tak mau harga dirinya juga runtuh. Saling menutupi, saling menjaga jarak, padahal ingin dekat. Lalu, apa yang tercipta dari reaksi dua makhluk ego yang malu-malu itu? Hanya mencuri-curi tatapan, kemudian pura-pura acuh. Hanya berdiam, padahal ingin bicara panjang. Jadi seperti itulah mereka dan kisahnya jika salah satu tidak belajar bagaimana caranya sedikit melemahkan kebuasan ego. Dingin tapi konyol, karena ego mereka saling berikatan seperti tali, memperpanjang jarak satu sama lain.
Egoisme bukanlah sebuah hal yang luar biasa.
Setiap orang mempunyai ego. Secara alami, manusia tercipta untuk menuruti ego masing-masing tapi, hanya sebagian yang tercipta untuk mengendalikannya, dan hanya beberapa yang berhasil memenangkan pertikaian melawan ego.
Dia Tidak Bisa Tidur
Aku menggeliat di bawah selimutku yang hangat. Samar, kudengar nyanyian hujan di luar. Wangi hujan yang saling memeluk dengan udara menari di hidungku. Aku terjaga.
Sudah pagi ternyata. Tapi, langit masih gelap padahal dulu ia benderang dengan cercah-cercah matahari yang rewel tidak ingin dibangunkan sepagi ini. Rupanya, matahari benar-benar rewel tak ingin bangun sampai ia tidur lagi dan sinarnya redup pagi ini. Awan abu-abu menyelimutinya yang tidur lagi, membuat sinarnya terhalang dan mendung langit pagiku.
Aku berusaha mengingat mimpiku semalam sementara matahari tak bangun-bangun dari tidurnya. Wangi hujan berbisik dekat hidungku, mengingatkanku apa yang ada dalam mimpiku semalam. Ternyata kamu. Ada apa datang ke mimpiku semalam? Apa kamu bosan tidak bicara denganku jadi kamu memutuskan datang ke mimpiku?
Tapi, aku ragu kamu benar-benar ingin bicara denganku, sekedar membahas hujan di bulan Juni misalnya. Barangkali saja, sesuatu memaksa jiwamu datang ke mimpiku padahal ragamu terbaring di ranjangmu sendiri, tak bisa tidur. Sementara ragamu gelisah tak bisa tidur, jiwamu malah memainkan sebuah drama dalam mimpiku dan mengusik ketenangannya dengan drama malam harimu.
Mereka bilang, jika seseorang bemimpi tentang seseorang yang lain itu berarti orang lain itu sedang merindukannya. Jiwaku menertawakan kata-kata mereka. Mana mungkin? Bukannya selama ini aku yang rindu bicara panjang lebar dan mendengar suara menyebalkanmu?
Aku bergegas bangun. Drama malam harimu membuatku ingin menyapamu pagi ini.
Saya lagi memandangi ampas kopi di dalem mug putih bulat di samping laptop. Ampasnya bener-bener hitam sampai-sampai dasar mug saya warnanya jadi agak ternoda gara-gara ampas kopi. Tapi, ampas kopi itu wangi meskipun menodai mug putih bulatku.
Lihat-lihat ampas kopi ini, saya jadi ingat kamu. Kopi yang saya minum hari ini berlisensi dari Starbucks. Harga yang sebanding dengan rasa dan aroma. Aroma kopi ini wangi dan rumahan banget. Dan ampasnya. Meskipun sudah jadi ampas, ampasnya pun masih punya aroma yang sedap. Tercium ketika aku mendekatkan mug putih bulatku untuk kuminum isinya tapi ternyata sudah habis dan hanya ada ampas itu. Berbeda dari kopi lain, ampasnya bahkan masih menyisakan wangi yang bisa memberi kesenangan kecil.
Kamu seperti ampas kopiku malam ini. Kata temanku dan memang harus ku akui, kamu punya gen yang bagus. Sebuah gen super yang jarang ku temui dengan pongahnya mengalir dalam dirimu. Kamu tidak semenggairahkan dan semenyenangkan kopi hangatku malam ini, minimal, sebagai ampas kopi yang telah kuminum habis, kamu ampas kopi yang branded. Biar kamu tidak indah-indah betul, masih ada sesuatu yang bisa dibanggakan dalam dirimu. Brand.
Brand, sebuah titel yang bisa membuat dua hal yang sama menjadi berbeda. Dalam hal ini, kopi dan manusia.
Ketika Mereka Jatuh Cinta
Manusia memang menyebalkan. Egonya tidak pernah puas. Bahkan, kalau manusia peminum air laut, dia tidak akan puas meminum air dari semua samudra di bumi. Bosan dengan air, mungkin dia akan mencoba meminum lelehan es di kutub untuk memuaskan dahaganya.
Bukankah kita sama?
Saya si egois yang tidak mau tahu dan kamu si egois yang menjaga benar harga dirimu. Ketika mereka yang egois saling jatuh cinta, mereka enggan mendekat namun minta ampun ingin dekat. Salah satu tidak mau harga dirinya runtuh dengan pendekatan yang paling tidak romantis, yang satu tidak ingin yang lain tahu apa yang dirasakannya karena tak mau harga dirinya juga runtuh. Saling menutupi, saling menjaga jarak, padahal ingin dekat. Lalu, apa yang tercipta dari reaksi dua makhluk ego yang malu-malu itu? Hanya mencuri-curi tatapan, kemudian pura-pura acuh. Hanya berdiam, padahal ingin bicara panjang. Jadi seperti itulah mereka dan kisahnya jika salah satu tidak belajar bagaimana caranya sedikit melemahkan kebuasan ego. Dingin tapi konyol, karena ego mereka saling berikatan seperti tali, memperpanjang jarak satu sama lain.
Egoisme bukanlah sebuah hal yang luar biasa.
Setiap orang mempunyai ego. Secara alami, manusia tercipta untuk menuruti ego masing-masing tapi, hanya sebagian yang tercipta untuk mengendalikannya, dan hanya beberapa yang berhasil memenangkan pertikaian melawan ego.
Dia Tidak Bisa Tidur
Aku menggeliat di bawah selimutku yang hangat. Samar, kudengar nyanyian hujan di luar. Wangi hujan yang saling memeluk dengan udara menari di hidungku. Aku terjaga.
Sudah pagi ternyata. Tapi, langit masih gelap padahal dulu ia benderang dengan cercah-cercah matahari yang rewel tidak ingin dibangunkan sepagi ini. Rupanya, matahari benar-benar rewel tak ingin bangun sampai ia tidur lagi dan sinarnya redup pagi ini. Awan abu-abu menyelimutinya yang tidur lagi, membuat sinarnya terhalang dan mendung langit pagiku.
Aku berusaha mengingat mimpiku semalam sementara matahari tak bangun-bangun dari tidurnya. Wangi hujan berbisik dekat hidungku, mengingatkanku apa yang ada dalam mimpiku semalam. Ternyata kamu. Ada apa datang ke mimpiku semalam? Apa kamu bosan tidak bicara denganku jadi kamu memutuskan datang ke mimpiku?
Tapi, aku ragu kamu benar-benar ingin bicara denganku, sekedar membahas hujan di bulan Juni misalnya. Barangkali saja, sesuatu memaksa jiwamu datang ke mimpiku padahal ragamu terbaring di ranjangmu sendiri, tak bisa tidur. Sementara ragamu gelisah tak bisa tidur, jiwamu malah memainkan sebuah drama dalam mimpiku dan mengusik ketenangannya dengan drama malam harimu.
Mereka bilang, jika seseorang bemimpi tentang seseorang yang lain itu berarti orang lain itu sedang merindukannya. Jiwaku menertawakan kata-kata mereka. Mana mungkin? Bukannya selama ini aku yang rindu bicara panjang lebar dan mendengar suara menyebalkanmu?
Aku bergegas bangun. Drama malam harimu membuatku ingin menyapamu pagi ini.
Inscription à :
Articles (Atom)