apakah kamu selalu mengingat hari-hari bersama seseorang?
kalau iya, pasti kamu menyimpan perasaan untuknya
karena perasaan itu mengukuhkan ingatan,
membuatnya tetap hidup dalam bayangan
saat waktu membuatnya tertinggal di belakang
Affichage des articles dont le libellé est kenyataan. Afficher tous les articles
Affichage des articles dont le libellé est kenyataan. Afficher tous les articles
samedi 27 juillet 2013
jingga yang manis
Di sisi bumi ini, jingga yang manis muncul pada diri senja. Aku memaksa diriku keluar dari rumah. Sudah lama aku tidak keluar dan melihat jingga yang manis. Tapi, begitu aku sudah di luar, yang kulihat bukannya langit.
Karena setiap aku melihat mobil, sepeda motor, dan orang yang berlalu lalang, yang kulihat hanyalah bayang-bayang wajahmu. Aku termenung melihat setiap bayang-bayangmu yang berlalu begitu saja.
Kalau aku harus mengakui, aku tidak suka diriku yang seperti ini. Aku bahkan tidak bisa menikmati senja yang kusukai tanpa mengingatmu.
Lalu, apakah dengan bicara padamu akan membuatku tidak lagi memikirkanmu?
Karena setiap aku melihat mobil, sepeda motor, dan orang yang berlalu lalang, yang kulihat hanyalah bayang-bayang wajahmu. Aku termenung melihat setiap bayang-bayangmu yang berlalu begitu saja.
Kalau aku harus mengakui, aku tidak suka diriku yang seperti ini. Aku bahkan tidak bisa menikmati senja yang kusukai tanpa mengingatmu.
Lalu, apakah dengan bicara padamu akan membuatku tidak lagi memikirkanmu?
jeudi 11 juillet 2013
Jika kamu tidak bisa tidur
Tadi malam aku tak bisa mendatangkan kantuk untuk merasuk
Aku terus terjaga sepanjang malam yang menghembus rindu
Katakan, apakah aku terjaga di dalam mimpimu?
Bisik mereka bilang jika kala malam kamu terjaga
Sebenarnya kamu tidak ada di ranjangmu,
Sebagian dari dirimu ada dalam mimpi seseorang
Seseorang yang merindumu
Aku terus terjaga sepanjang malam yang menghembus rindu
Katakan, apakah aku terjaga di dalam mimpimu?
Bisik mereka bilang jika kala malam kamu terjaga
Sebenarnya kamu tidak ada di ranjangmu,
Sebagian dari dirimu ada dalam mimpi seseorang
Seseorang yang merindumu
mercredi 10 juillet 2013
Fatimah dan Ali
It's so romantic that not even Romeo and Juliet is comparable to them.
Their love is real and inspiring.
Because when you love someone, Allah must knows it. If he is the one that Allah gives for you, Allah will make you together with him in the rightest time.Insya Allah.
lundi 8 juillet 2013
sepahit sunyi dalam pertemuan yang manis
"Apa yang kamu inginkan?" tanyanya.
Tumben. Aku sedikit heran dia bertanya seperti itu karena dia tidak pernah sekalipun menanyakan opiniku bahkan untuk hal kecil macam pesanan seperti ini sebelumnya. Tidak pernah sama sekali. Aku merasa agak aneh karena dia biasa memesankanku pesanan yang tidak terlalu kusukai dan dia pikir aku menyukainya. Aneh ketika tiba-tiba dia menghargai eksistensiku. Ku anggap perlakuan barunya itu adalah sebagai bentuk kesopanan yang dia coba tunjukkan. Tapi, aku senang dia memperlakukanku sedikit lebih beradab dan menganggapku lebih dari sekedar latar.
"Chocolate truffle saja. Aku tidak haus," jawabku.
Dia menatapku sekilas kemudian berpaling pada pelayan yang sangat sopan dan menunggu dengan sabar di samping meja.
Setelah pelayan itu berlalu, hanya ada keheningan di meja ini. Aku sibuk menatap lalu lalang di balik jendela ini sementara dia sibuk dengan smartphone-nya. Sesekali sambil menunggu pesanan, ku lirik dirinya, jemarinya pada layar smartphone, dan raut wajahnya yang terlalu datar untuk dapat diartikan.
Diam di antara aku dan dia ini seperti mengukuhkan eksistensi jarak di antara kami. Aku tidak ingat sejak kapan kami berjarak satu sama lain. Aku juga tidak tahu seberapa jauh jarak itu membentang. Rasanya seperti ada ruang kosong di depanku. Aku ingin mengucapkan sesuatu, entah itu sekedar 'hmmm' atau keluhan atas pesanan yang tak kunjung datang untuk memecah sunyi ini. Apapun asal suaraku menggema dalam rongga di antara kedua telinganya. Aku ingin memecah sunyi dan membinasakan eksistensinya karena mungkin saja dengan hilangnya sunyi, ruang kosong itu juga akan lenyap.
Akhirnya aku berdebat dengan diriku. Aku menemukan kenyamanan dalam sunyi bersamanya lebih dari hingar bingar bersama siapapun. Tapi, aku pun iri melihat mereka yang bercakap dengan riang sementara mungkin satu-satunya komunikasi bermakna yang ku lakukan bersamanya hanya telepati. Komunikasi kami yang nyata hanya sampai sejauh mana perasaan manusia dapat mengindra perasaan manusia lain. Karena aku ingin berbicara lagi padanya entah itu topik yang menggelikan atau topik yang dalam sampai membuatnya hanyut dalam letupan-letupan opini yang membuncah. Perdebatan yang cukup sengit.
Aku mendengar helaan napasnya. Aku menoleh padanya, ternyata dia ikut menatap lalu lalang di balik jendela. Melihatnya, aku tersenyum tipis. Tidak apa, setidaknya kami memandang arah yang sama.
Lalu lalang manusia ini tidak membosankan tapi tidak juga menarik, tapi aku tahu sebenarnya pikirannya tidak kesitu. Aku tahu pasti bahwa pikirannya ada di tempat lain entah di ruang bernama apa dan ada siapa disana. Aku juga tidak bisa memastikan apakah dia sedang memaksa proyeksiku dalam otaknya untuk ikut hadir dalam ruang pikirannya saat ini. Aku tidak yakin jika dia juga berusaha menyamankan diri dalam sunyi yang sudah sedemikian nyata. Aku tidak yakin dia juga ingin membinasakan sunyi senyap ini sama sepertiku.
Sunyi ini memang demikian menyiksa. Meskipun aku tidak terlalu nyaman dengan sunyi dalam ruang kosong ini, aku heran kenapa aku masih juga tidak bisa memaksa diriku membuka sebuah suara bahkan dalam nada rendah. Aku ingin dia mengucapkan sesuatu bahkan kalimat bermakna ganda sekalipun untuk ku tangapi. Kurasa alasan diamku selama ini karena aku selalu menunggunya yang membuka suara dulu, memberiku sebuah alasan untuk berbicara padanya.
Pikiranku teralih pada chocolate truffle pesananku. Chocolate truffle yang full of chocolate. Ku bayangkan rasanya pasti sedikit pahit. Kadang, terlalu banyak coklat bisa menimbulkan rasa pahit. Bahkan, dalam kemanisan seperti itu aku masih bisa menemukan kepahitan. Aku tidak membayangkan coklat yang akan hinggap di sela-sela gigiku nanti. Yang ku bayangkan adalah ketika memakan chocolate truffle itu, aku juga sedang memakan situasi saat ini detik ini. Pahit dalam manis. Seperti sunyi dalam pertemuan antara aku dan dia.
"Kenapa pesanannya lama ya?" tanyanya yang lebih terdengar seperti keluhan.
Aku tersenyum tipis dan menyiapkan sepenggal kalimat.
Tumben. Aku sedikit heran dia bertanya seperti itu karena dia tidak pernah sekalipun menanyakan opiniku bahkan untuk hal kecil macam pesanan seperti ini sebelumnya. Tidak pernah sama sekali. Aku merasa agak aneh karena dia biasa memesankanku pesanan yang tidak terlalu kusukai dan dia pikir aku menyukainya. Aneh ketika tiba-tiba dia menghargai eksistensiku. Ku anggap perlakuan barunya itu adalah sebagai bentuk kesopanan yang dia coba tunjukkan. Tapi, aku senang dia memperlakukanku sedikit lebih beradab dan menganggapku lebih dari sekedar latar.
"Chocolate truffle saja. Aku tidak haus," jawabku.
Dia menatapku sekilas kemudian berpaling pada pelayan yang sangat sopan dan menunggu dengan sabar di samping meja.
Setelah pelayan itu berlalu, hanya ada keheningan di meja ini. Aku sibuk menatap lalu lalang di balik jendela ini sementara dia sibuk dengan smartphone-nya. Sesekali sambil menunggu pesanan, ku lirik dirinya, jemarinya pada layar smartphone, dan raut wajahnya yang terlalu datar untuk dapat diartikan.
Diam di antara aku dan dia ini seperti mengukuhkan eksistensi jarak di antara kami. Aku tidak ingat sejak kapan kami berjarak satu sama lain. Aku juga tidak tahu seberapa jauh jarak itu membentang. Rasanya seperti ada ruang kosong di depanku. Aku ingin mengucapkan sesuatu, entah itu sekedar 'hmmm' atau keluhan atas pesanan yang tak kunjung datang untuk memecah sunyi ini. Apapun asal suaraku menggema dalam rongga di antara kedua telinganya. Aku ingin memecah sunyi dan membinasakan eksistensinya karena mungkin saja dengan hilangnya sunyi, ruang kosong itu juga akan lenyap.
Akhirnya aku berdebat dengan diriku. Aku menemukan kenyamanan dalam sunyi bersamanya lebih dari hingar bingar bersama siapapun. Tapi, aku pun iri melihat mereka yang bercakap dengan riang sementara mungkin satu-satunya komunikasi bermakna yang ku lakukan bersamanya hanya telepati. Komunikasi kami yang nyata hanya sampai sejauh mana perasaan manusia dapat mengindra perasaan manusia lain. Karena aku ingin berbicara lagi padanya entah itu topik yang menggelikan atau topik yang dalam sampai membuatnya hanyut dalam letupan-letupan opini yang membuncah. Perdebatan yang cukup sengit.
Aku mendengar helaan napasnya. Aku menoleh padanya, ternyata dia ikut menatap lalu lalang di balik jendela. Melihatnya, aku tersenyum tipis. Tidak apa, setidaknya kami memandang arah yang sama.
Lalu lalang manusia ini tidak membosankan tapi tidak juga menarik, tapi aku tahu sebenarnya pikirannya tidak kesitu. Aku tahu pasti bahwa pikirannya ada di tempat lain entah di ruang bernama apa dan ada siapa disana. Aku juga tidak bisa memastikan apakah dia sedang memaksa proyeksiku dalam otaknya untuk ikut hadir dalam ruang pikirannya saat ini. Aku tidak yakin jika dia juga berusaha menyamankan diri dalam sunyi yang sudah sedemikian nyata. Aku tidak yakin dia juga ingin membinasakan sunyi senyap ini sama sepertiku.
Sunyi ini memang demikian menyiksa. Meskipun aku tidak terlalu nyaman dengan sunyi dalam ruang kosong ini, aku heran kenapa aku masih juga tidak bisa memaksa diriku membuka sebuah suara bahkan dalam nada rendah. Aku ingin dia mengucapkan sesuatu bahkan kalimat bermakna ganda sekalipun untuk ku tangapi. Kurasa alasan diamku selama ini karena aku selalu menunggunya yang membuka suara dulu, memberiku sebuah alasan untuk berbicara padanya.
Pikiranku teralih pada chocolate truffle pesananku. Chocolate truffle yang full of chocolate. Ku bayangkan rasanya pasti sedikit pahit. Kadang, terlalu banyak coklat bisa menimbulkan rasa pahit. Bahkan, dalam kemanisan seperti itu aku masih bisa menemukan kepahitan. Aku tidak membayangkan coklat yang akan hinggap di sela-sela gigiku nanti. Yang ku bayangkan adalah ketika memakan chocolate truffle itu, aku juga sedang memakan situasi saat ini detik ini. Pahit dalam manis. Seperti sunyi dalam pertemuan antara aku dan dia.
"Kenapa pesanannya lama ya?" tanyanya yang lebih terdengar seperti keluhan.
Aku tersenyum tipis dan menyiapkan sepenggal kalimat.
jeudi 4 juillet 2013
Indramu
Menarilah kamu dalam zonaku
Teriaklah kamu dengan segala hal yang kamu tahu
Berlarilah kamu menujuku
Tataplah aku dengan tatapan terfokusmu
Ciumlah wangiku dalam udara di sekitarmu
Dengarlah kamu akan suaraku yang memandumu
Senyumkan bibirmu dalam tatapanmu
Menyentuhlah kamu dengan jemarimu
Sentuhkan pada bahuku
Rasakan olehmu kehadiranku
Dan ingatlah dengan kepalamu,
Ingatlah aku dan tanamkan aku jauh dalam dirimu
Teriaklah kamu dengan segala hal yang kamu tahu
Berlarilah kamu menujuku
Tataplah aku dengan tatapan terfokusmu
Ciumlah wangiku dalam udara di sekitarmu
Dengarlah kamu akan suaraku yang memandumu
Senyumkan bibirmu dalam tatapanmu
Menyentuhlah kamu dengan jemarimu
Sentuhkan pada bahuku
Rasakan olehmu kehadiranku
Dan ingatlah dengan kepalamu,
Ingatlah aku dan tanamkan aku jauh dalam dirimu
mercredi 3 juillet 2013
Dalam sunyi
Aku tidak ingin menutup mataku
Karena aku tidak ingin kehilangan sedetik pun
Aku hanya ingin terus terjaga seperti ini
Tanpa ada suara tanpa ada kata
Hanya ada sunyi, kau, dan aku
Sekali lagi, aku jatuh cinta
Dan kau menjatuhcintakanku dalam sunyi
Karena aku tidak ingin kehilangan sedetik pun
Aku hanya ingin terus terjaga seperti ini
Tanpa ada suara tanpa ada kata
Hanya ada sunyi, kau, dan aku
Sekali lagi, aku jatuh cinta
Dan kau menjatuhcintakanku dalam sunyi
Hanya mimpi
Ilusi, kata semua orang
Padahal, aku sudah memimpikanmu berhari-hari
Aku benci bangun di pagi hari dan begitu ku ingat mimpiku,
ternyata kau melakoni aksi semalam suntuk dalam tidurku
Tapi aku lebih benci lagi,
ketika mimpi itu menggelitik perutku, membuatku bahagia
dan aku tidak bisa memberitahumu
lundi 24 juin 2013
mercredi 19 juin 2013
apapun yang terjadi, jangan lari dari kenyataan
kenapa tidak?
karena kenyataan adalah satu-satunya tempat dimana kamu tinggal
dan kalau kamu lari dari kenyataan, dimana lagi kamu akan tinggal?
dan itulah alasannya kenapa mereka yang lari dari kenyataan untuk melupakan masalah malah akhirnya menemukan masalah.
sepertinya, dunia ini berbentuk lingkaran. karena jika kamu berlari dari suatu hal, kamu akan justru menemukan hal itu pada akhirnya pada suatu saat nanti.
Inscription à :
Articles (Atom)
